Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘alah bisa karena biasa’. Alah di sini bukanlah Tuhan, tetapi merupakan ungkapan bahwa bila terus mencoba, terus berlatih dan berusaha, lama-kelamaan kita akan menjadi bisa. Hingga kini pepatah tersebut masih dipakai. Tetapi kalau dipikir lebih dalam, seberapa jauh sih relevansinya?
Banyak hal yang awalnya kita tidak bisa melakukannya, kemudian menjadi bisa. Misalnya saja sewaktu kecil kita belajar mengeja atau membunyikan huruf ‘r’. Awalnya –saat belajar- rasanya sulit sekali, tetapi kemudian kita menjadi bisa mengeja dan membunyikannya (kecuali bila ada yang cadel atau berbahasa cina yang tidak menuntut bunyi ‘r’). Contohnya lagi saat belajar membaca, belajar bahasa, naik sepeda, mengemudikan kendaraan sampai bercinta. Untuk yang terakhir ini, banyak teman yang mengatakan bahwa skill tersebut tidak perlu berlatih tetapi kita akan bisa dengan sendirinya bila sudah waktunya. Pernyataan ini benar tidak yah? Hehe...
Bila ditelaah lebih lanjut, ternyata antara tidak bisa dan bisa hanya berbeda tipis. Bila dibuat skala dari 0 sampai 10 (0 dianggap tidak/belum bisa dan 10 adalah mahir), angka 5 adalah titik dimana status kita berubah dari tidak bisa menjadi bisa. Di sini tampak bahwa perbedaan perubahan status dari tidak bisa menjadi bisa sebenarnya tipis. Misalnya antara angka 4,9 (nyari bisa, tapi tetap dikatakan belum bisa) dengan angka 5 (bisa) yang berarti selisihnya 0,1. Lebih detil lagi, bila nyaris bisa dinyatakan sebagai angka 4,995 dan bisa adalah angka 5, maka selisihnya hanya 0,005. Sangat tipis bukan?
Walaupun bedanya tipis, tetapi perbedaan status keadaannya sangat mendasar. Dari tidak bisa menjadi bisa...
Dari sudut pandang filosofis, beda tipis ini tak lepas dari kuasa Tuhan. Dalam hal ini ada unsur ke’tak-berdaya’an manusia. Kita mungkin berupaya mati-matian untuk menjadi bisa, tetapi hanya mentok di score 4,99. Dalam arti, bila Tuhan tidak mengizinkan kita untuk bisa, kita tak akan pernah menjadi bisa...
Misalnya saja, saya tak tahan untuk bekerja di luar ruang karena tidak tahan panas. Bila udara panas sedikit, kepala langsung sakit tak keruan. Ini saya anggap sebagai keterbatasan yang diberikan Tuhan. Mau usaha sampai bagaimana pun dan sampai kapan pun, saya takkan bisa bekerja di luar ruangan di siang hari bolong berpanas-panasan.
Tetapi ada hal lain dimana saya lebih cepat bisa dibanding teman-teman lain misalnya bermain piano. Anak-anak lain rata-rata perlu 3-4 kali pertemuan untuk bisa memainkan sebuah lagu, sementara saya hanya memerlukan 1 kali pertemuan. Dalam hal ini talenta ternyata berpengaruh besar dalam membuat kita menjadi lebih cepat bisa. Talenta mempercepat dan menguatkan pergeseran angka dari 0 menjadi 5, 6, 7, 8, 9, bahkan 10. Dan yang perlu diingat bahwa talenta juga berasal dari Tuhan.
Tulisan ini tidak sepenuhnya menyalahkan pepatah di atas. Tetapi sekedar mengingatkan bahwa dalam berusaha perlu selalu disertai doa. ORA ET LABORA. Berusaha dan berdoa. Karena dalam banyak hal, yang membuat kita menjadi bisa dan berhasil adalah Tuhan. Dan kita juga perlu mengevaluasi diri kita, menggali talenta dan keterbatasan yang kita miliki. Yang keduanya juga berasal dari Tuhan...
:: rombengus 010707
living life and love to the fullest...
Monday, July 16, 2007
Antara bisa dan tidak bisa? Beti lagi !
Posted by rombengus at 3:02 PM
