Semua orang pasti akan setuju bila dikatakan ‘tidak ada hal yang pasti di dunia’. Banyak hal yang membuktikan pernyataan ini. Misalnya orang yang dipuja-puja di suatu komunitas karena kepintarannya, tiba-tiba malah mempermalukan dirinya sendiri; cinta yang dulu dilepas tau-tau kembali tanpa kedua belah pihak pernah meminta; sahabat terdekat yang selama ini menjadi tempat berbagi kisah tiba-tiba menjadi musuh yang menusuk dari belakang. Dan berbagai kisah kehidupan lainnya.
Hal yang menyangkut hubungan dengan manusia memang sulit ditebak, tidak ada yang pasti. Orang kerap mengaitkan ini dengan uniknya setiap individu, termasuk benak pikiran mereka masing-masing. Tidak ada yang bisa menebak pikiran manusia. Tidak ada yang dapat memprediksi perilaku mereka.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi panjang dengan seorang sahabat yang selama bertahun-tahun bergelut di bidang manusia (human capital). Dari diskusi tersebut sempat tersirat ide untuk membuat sebuah alat ukur ‘tool’ psikometri yang bisa memprediksi perilaku seseorang dalam waktu 6 bulan mendatang, atau bahkan 2 tahun ke depan.
‘Tool psikologi berbasis cenayang’ ini bila berhasil dibuat akan sangat berguna bagi banyak pihak.
Bagi perusahaan, setelah melakukan tes dengan tool tersebut, akan ketahuan apakah orang tsb akan stay di perusahaan tsb dalam waktu 2 tahun mendatang. Apakah kinerjanya akan baik. Apakah dalam waktu ke depan ia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri dan perusahaan.
Dan bagi para individu, tool ini sangat membantu saat mencari pasangan. Dengan tool ini bisa diprediksi apakah si dia akan setia dalam waktu 6 bulan mendatang, atau mungkin si dia akan selingkuh dan menyakiti diri kita? Bila hasil tes ada kecenderungan ke arah sana, kita dapat menghentikan hubungan sejak dini, sebelum dia menyakiti kita.
Diskusi semalam suntuk membahas tool tersebut memang mengasyikkan walau akhirnya kami menyadari bahwa kami berada di jalur ‘tidak normal’ dari segi manusia dewasa dan kami pun segera kembali ke ‘jalan yang benar’... Dan diskusi itu pun menyadari kami bahwa kemampuan manusia untuk mengerti sangatlah terbatas. Banyak hal yang tidak dapat dan tidak perlu kita mengerti sepenuhnya. Karena kita memang tidak diizinkan untuk mengerti dan mengetahuinya.
Kami pun kemudian menerima keterbatasan itu dan menerima kenyataan bahwa ada banyak hal-hal yang tidak bisa dipastikan oleh pikiran manusia. Dan saat merenung lebih jauh, kami memasuki fase dimana kami sadar bahwa hal yang tidak pasti itu bukanlah suatu beban ataupun hambatan, tetapi malah dapat mengasyikkan...
Hal yang tidak pasti itu dapat membuat kejutan tersendiri bagi kita. Contohnya perilaku orang-orang tertentu yang tiba-tiba aneh, kejadian-kejadian yang tak terduga, prediksi-prediksi yang salah, impian-impian yang tak menjadi kenyataan, masa lalu yang tiba-tiba menjadi masa depan, dsb.
Hal yang tidak dapat dipastikan itu membuat adrenalin kita meningkat saat cemas, curiga, berharap, ragu-ragu, bernafsu, dlsb. Hal yang tidak pasti itu membuat tersalurkannya seluruh emosi yang diberikan Tuhan seperti: sedih, gembira, marah, deg-degan, kecewa, dll. Hal yang tidak pasti itu juga membuat perilaku manusia bertambah, yaitu melakukan gosip. Bergosip akan hal-hal yang belum/tidak pasti.
Accepting something uncontrolable sometimes difficult, but we can try to enjoy it. Having pleasure of uncertainty.
:: rombengus 090707
living life and love to the fullest...
Monday, July 16, 2007
The pleasure of uncertainty
Posted by rombengus at 3:29 PM
