living life and love to the fullest...

Tuesday, May 01, 2007

Komitmen tanpa otak !

Secara fisik Toyo adalah manusia normal, tetapi ada sedikit di unik di otaknya. Toyo memiliki dunianya sendiri. Ia asyik dengan dirinya sendiri. Dari segi kemampuan berpikir, ia selalu berpikiran ‘out of the box.’ Ia luar biasa kreatif dan selalu hadir dengan ide-ide ajaib yang tidak dimiliki setiap orang. Selain kreatif dalam berpikir, Toyo juga sering mempraktekkan pikiran-pikirannya itu. Toyo sering melakukan eksperimen dalam kehidupannya sehari-hari.

Seperti kebanyakan warga ibukota lainnya, setiap harinya Toyo juga selalu dihadapkan dengan lalu-lintas Jakarta yang semrawut dan padat. Melihat keadaan ini, Toyo berpikir keras untuk dapat menaklukannya. Keinginan itu dijadikannya sebagai visi pribadinya untuk periode tiga bulan ini.

Untuk mencapai visi tersebut, Toyo sadar bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kesemrawutan dan kepadatan lalu-lintas Jakarta. Ia tidak berdaya saat turun hujan yang luar biasa lebat sampai-sampai pohon serta papan reklame di jalan-jalan utama ibukota pada rubuh, sehingga kemacetan terjadi dimana-mana. Saat kejadian tersebut terjadi, jalan Casablanca dari arah jalan Sudirman sampai Tebet ditempuh Toyo dalam waktu 2,5 jam padahal bila lancar tak sampai setengah jam.

Setelah menyadari ketakberdayaannya atas hal-hal di luar kendalinya itu, Toyo mulai memusatkan diri dengan hal-hal yang bisa dipengaruhinya (circle of influence). Dan Toyo pun memulai melakukan eksperimen atas dirinya sendiri.

Ada berbagai hal yang Toyo lakukan baik dalam perjalanan menuju kantor, maupun perjalanan pulang dari kantor. Misalnya di suatu pagi saat hendak berangkat ke kantor, ia komit pada dirinya sendiri untuk selalu senyum saat mengemudi. Ia melakukannya door to door, mulai dari garasi rumah sampai ke garasi kantor. Untung saja perjalanan pagi itu singkat, sekitar 20 menit, sehingga Toyo dapat melakukannya dengan mulus.

Keesokan harinya Toyo bereksperimen mendengarkan lagu ‘ajeb-ajeb’ alias lagu bertempo cepat seperti tekno, dan lagu itu diputar sekeras-kerasnya. Ekseperimen ini membuat Toyo dapat tiba di kantor dengan sangat cepat, karena gaya mengemudinya yang potong sana potong sini, klakson sana klakson sini. Karena pengaruh musik, Toyo yang dikenal berkepribadian lembut menjadi sangar di jalan raya. Eksperimen tersebut membuktikan bahwa musik tekno dapat memacu adrenalin.

Kemudian Toyo melakukan eksperimen yang bisa dibilang ‘tak biasa’ untuk orang umum. Ia komit pada dirinya sendiri untuk selalu berada di jalur kanan dan tidak boleh pindah jalur apa pun yang terjadi di jalan. Awalnya perjalanan berjalan mulus, tetapi tanpa dapat diduga muncul mobil box di jalur kanan dengan kecepatan kurang dari 40 km/jam. Semua mobil mengambil kiri untuk dapat memotong mobil box tersebut, dan Toyo pun ingin melakukannya. Tetapi ia teringat komitmennya untuk selalu di jalur kanan dan ia mencoba bertahan di jalur kanan… Seperti yang telah diduga, perjalanan Toyo menjadi sangat lambat… Ini sangat mengesalkan Toyo, tetapi ia ingat komitmennya. Setelah mobil box tersebut putar balik sebelum jalan Sudirman, baru kemudian Toyo dapat menginjak gas sekuat-kuatnya.

Eksperimen lain dilakukan Toyo saat pulang bersama rekan sekantornya, kebetulan saat itu Toyo komit untuk memasang virtual auto pilot di mobilnya. Ia hanya bisa mengemudi dari kantor sampai rumah, tidak bisa berhenti diantara kedua titik tersebut. Komitmen ini tentunya membingungkan karena rekan Toyo ingin turun di pertengahan jalan. Saat temannya memohon, Toyo bersikeras pada komitmennnya. Untung saja temannya tersebut sedikit-banyak telah mengetahui tabiat ‘aneh’ Toyo sehingga ia dapat mengerti. Dan kemudian toch akhirnya Toyo menghentikan komitmen auto pilotnya.

Eksperimen-eksperimen lainnya tetap dilakukan Toyo, yang membuatnya menjadi asyik mengemudi dan tak mengeluh bila terjadi kemacetan karena ia memiliki fokusnya sendiri. Dan bagi teman-teman yang pernah ikut mobil Toyo dan disupirin Toyo, ada yang menganggap komitmennya tersebut sebagai hal yang lucu dan ‘gila’ tetapi ada pula yang mengelus dada. Seorang sahabatnya malah pernah berkata, “Ya Tuhan, berilah saya kesabaran…” saat menghadapi keanehan Toyo di jalan raya.

Tak lama berselang, berita keanehan ‘Toyo dan komitmennya saat mengemudi’ ini tersebar luas di kantor. Ada yang menganggapnya sebagai guyonan dan berkomentar, “Dasar orang gila!” Ada yang menanggapi serius dengan menganalisa karakter Toyo bahwa Toyo sebenarnya adalah seorang yang sangat cerdas dan keanehannya adalah dampak dari kecerdasan tersebut. Dan ada pula yang berkata bahwa Toyo harus segera menikah agar memiliki anchor sehingga tidak aneh-aneh lagi.

Walaupun banyak komentar dari teman-temannya, Toyo mendapatkan pelajaran tersendiri dari eksperimen-eksperimennya. Toyo sebenarnya hanya berusaha untuk melakukan hal-hal yang dikatakan, tidak sekedar mengatakannya (tidak sekedar omdo). Tetapi ternyata setiap komitmen yang dibuat memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri. Konsekuensinya ada yang positif, ada yang negatif. Ada yang berdampak pada diri sendiri, ada yang berdampak pada orang lain.

Untuk itu Toyo sadar bahwa diperlukan kecermatan dan perhitungan yang matang dalam membuat suatu komitmen agar tidak terjadi ‘komitmen tanpa otak!’

Selain itu, Toyo juga menyadari bahwa fleksibilitas sangat diperlukan dalam menjalankan suatu komitmen. Keadaan di luar sana terus bergejolak bahkan diri kita sendiri pun -disadari atau tidak- ikut berubah. Ini yang mendorong kita untuk tidak mempertahankan komitmen dengan kaku, kecuali untuk hal-hal yang menyangkut prinsip dan norma.

Pada akhirnya kita memang dituntut untuk lebih bijaksana lagi dalam membuat komitmen dan dalam melaksanakannya. Ini juga berlaku untuk Toyo, walaupun ia memiliki karakter yang aneh…

Jakarta 300407

d