Kutatap wajahnya, kuperhatikan mimiknya dengan seksama, kuamati matanya. Ada kepedihan di sana, walau ia berusaha menutupinya. Ada nada kecewa, walau ia berusaha mengalihkannya. Tetapi wajah dan bahasa tubuhnya tak bisa menutupi itu. Aku sebenarnya merasakan hal yang sama, tetapi aku tahu saat itu ia membutuhkanku, jadi kuurungkan niat untuk mengeluarkan keluhan yang serupa. Lalu kuputuskan untuk mendengarkan keluhannya sembari makan es yang kami gemari bersama.
Otaknya yang cerdas membuat percakapan kami berlari dari satu hal ke hal lain dengan cepat. Aku mengejar pemikirannya sembari mencari makna yang bisa menguatkan dirinya. Untung saja posisiku saat itu bukan sebagai executive search yang sedang merekrut atau menyeleksi eksekutif, karena menginterview wanita seperti dirinya tidaklah mudah. Cepet banget! Hal ini serupa dengan gayanya bekerja yang quick n efficient.
Aku memahami betul keluhannya, karena aku pun merasakan hal yang sama. Bisa dikatakan kami adalah korban dari ambisi orang-orang tertentu. Posisi kami yang tadinya sudah nyaman terpaksa berubah karena dikhawatirkan dapat menghambat tercapainya ambisi tersebut. Tetapi aku salut karena kami berdua tidak berupaya merebut posisi semula. Mungkin itu karena prinsip yang diajarkan pada kami sedari kecil ‘bila pipi kananmu ditampar, beri pipi kirimu’ dan setelah dewasa mendapat ajaran untuk ‘menjadi proaktif bukannya reaktif.’
Walaupun demikian, aku sadar kami sebenarnya belum sepenuhnya pasrah dengan perubahan posisi tersebut, dan kami cenderung menjadi stres... walaupun kadar stres di sini tidak dalam arti berat. Bila keadaan ini dikonsepkan, kami telah melewati masa protes dan masa penolakan. Fase itu kami lalui dalam bentuk implicit dengan mencari ‘jalan lain’ yang menyenangkan hati, dengan menyibukkan diri dengan hal-hal di luar permasalahan tersebut. Misalnya dengan asyik dengan keluarga, sibuk dengan pelayanan ibadah, jalan dengan teman, dsb. Kegiatan mencari jalan lain tersebut memang cenderung avoiding problem, yang jelas-jelas tidak menyelesaikan permasalahan itu sendiri.
Kemudian kami sadar bahwa mencari jalan lain kurang tepat untuk terus dilakukan. Karena bila kami terlalu lama terbuai di sana, kami akan menikmati jalan lain tersebut dan itu dapat menimbulkan apati terhadap permasalahan awal. Bila kami terlalu asik lari dengan kegiatan-kegiatan tersebut, pekerjaan di posisi baru dapat terbengkalai, atau tidak maksimal saat dikerjakan.
Pelan-pelan kami mencoba memasuki fase pasrah... Pasrah disini bukan dalam arti negatif, tetapi suatu keadaan dimana kita bisa menerima perubahan tersebut secara positif.
Kami mulai berpikir bahwa hal-hal yang terjadi tersebut berada di luar kendali kami. Meskipun hal itu dapat dipengaruhi, tetapi pengaruhnya minim, dan kami pun berpikir, “Apa perlu dipengaruhi?” “Apa perlu diperjuangkan?” “Apakah posisi lah yang menjadi tujuan utama kami dalam berkarya?”
Kepasrahan itu sendiri merupakan suatu pilihan. Kami dapat membiarkan diri kami terlena berada di jalan lain, atau berusaha untuk pasrah. Meski telah memilih untuk pasrah, tidak mudah untuk melewati fase ini, karena pemikiran logika dapat membuat kami kembali protes dengan kejadian tersebut dan kembali membenarkan kami untuk menikmati jalan lain yang telah kami tempuh.
Secara konsepnya, grafik produktivitas akan kembali naik dan tingkat stres akan menurun bila kami telah berhasil pasrah. Seiring dengan proses, pelan-pelan kami akan bisa mulai menikmati posisi baru, bekerja dengan produktif dan kemudian menjadi kreatif...
Tidak mudah memang, tetapi harus diperjuangkan...
Jakarta, 220407
living life and love to the fullest...
Monday, April 23, 2007
Berjuang untuk pasrah
Posted by rombengus at 7:35 AM
