Ingin sesabar guru TK
Bila kita perhatikan orang-orang di sekitar kita, ternyata ada banyak orang dewasa yang masih berperilaku seperti anak TK...
Di usia TK, anak-anak belajar membaca dan menulis. Dalam proses ini mereka belajar mengenal kata dan makna dan penggunaannya. Karena masih belajar, kadang anak-anak TK menggunakan kata-kata yang kurang tepat sehingga terdengar kasar atau brutal atau sarkastik. Sementara itu, orang dewasa yang telah belajar bahasa Indonesia selama bertahun-tahun dan mempraktekkannya sehari-hari selama belasan/puluhan tahun, masih saja ada yang memilih penggunaan kata-kata yang kasar dan menyakitkan. Entah itu disengaja (karena marah) ataupun tak disengaja (karena terbiasa).
Selain belajar membaca dan menulis, anak-anak TK juga diajari mengasihi sesamanya. Dalam tahap belajar ini, wajar bila anak-anak TK masih suka membalas bila dipukul temannya, atau ngambek bila ditegur gurunya. Anehnya, tak sedikit orang dewasa yang masih suka balas dendam ke sesamanya –secara sadar atau tidak. Orang dewasa yang tersinggung sedikit oleh ulah sesamanya, langsung berusaha untuk membalas perbuatan itu berpuluh-puluh kali lipat banyaknya. Dan rasa tersinggung itu dipendam selama berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun. Bukan hanya orang awam saja, tak sedikit orang yang merasa dirinya relijius/saleh dan terlibat dalam aneka kegiatan rohani/keagamaan, tetapi masih menyimpan dendam dan gemar membalas bila disakiti.
Memaafkan memang merupakan hal tersulit yang harus dilakukan. Perlu jiwa dan hati yang besar untuk memaafkan orang lain.
Ada masanya dimana anak TK mengalami ‘puber’ balita dimana mereka ingin menunjukkan eksistensinya sebagai anak-anak. Gejalanya berupa cenderung menjadi egois, tak mau kalah, tak mau dibilangin/dinasehati, nakal, dsb. Ternyata orang dewasa yang meskipun menyandang kata ‘dewasa’ masih juga jago dalam hal ini. Orang dewasa sering emoh ditegur dan malah balik menggonggong, “Sape loe berani nasehatin gue?” Orang dewasa pun sigap bila diajak saing-saingan, apalagi yang menyangkut status diri, “Gue yang paling hebat! Karir gue hebat! Gaji gue hebat! Rumah, mobil, dan materi lainnya gue punya! Pasangan gue paling cakep! Bla bla bla…” Dan tak sedikit orang dewasa yang nakal…
Anak-anak TK berusia sekitar 4-6 tahun. Di usia segini, wajar bila mereka belum bisa berbuat banyak dan tergantung dengan orang lain. Tapi tak hanya anak TK, banyak orang dewasa yang manja, belum mandiri dan mudah sekali mengajukan kalimat minta tolong. Mereka cepat dan mudah menyuruh, tapi lambat dan malas mengerjakannya sendiri. Misalnya seorang pimpinan yang kerap menyuruh anak buahnya mengerjakan ini-itu tanpa perduli dengan kapasitas kerja si anak buah. Dan banyak pula lowongan kerja di media masa yang mencari karyawan yang mau bekerja keras (hard-worker). Syarat ini terdengar lucu, sebab, bukankah bekerja itu memang harus tekun dan gigih? Kalau mau bersantai-santai, nyuruh-nyuruh doang, ya jangan kerja! Tapi ternyata memang banyak karyawan yang ‘sekedar’ kerja dan manja… tak hanya perempuan, laki-laki juga banyak yang begini.
Melihat perilaku anak TK yang seperti digambarkan di atas, tak heran bila guru TK merupakan profesi yang membutuhkan tingkat kesabaran yang sangat tinggi. Itu karena guru TK sehari-harinya harus menghadapi anak-anak yang perilakunya beragam dan kadang kurang menyenangkan (namanya juga anak-anak).
Guru TK itu sabar sekali dan tak cepat naik darah akibat perilaku murid-muridnya. Bahkan walaupun mendapatkan perilaku tak menyenangkan dari murid-muridnya, guru TK tetap mendidik dan membimbing anak didiknya dengan telaten. Dan bukan hanya itu, malah guru TK juga bersedia mengerjakan pekerjaan lainnya seperti mengganti baju anak muridnya yang basah dan kalau perlu nyebokin mereka…
Memang sulit sekali bagi kita untuk bisa sesabar guru TK. Dan bisa jadi guru TK bisa sesabar itu karena muridnya masih anak-anak sehingga patut dimaklumi, sementara tak mudah bagi kita untuk memaklumi orang dewasa yang masih berperilaku seperti anak-anak… Tapi melihat perilaku orang dewasa ini, mau tak mau kita harus melatih diri untuk bersabar. Dan kita juga harus bersabar secara aktif, tidak pasif. Maksudnya, sembari bersabar menghadapi karakter orang-orang di sekitar kita yang kurang menyenangkan, kita juga harus tetap aktif bekerja dan -bila memungkinkan- tak ada salahnya bagi kita untuk tetap mendukung, membimbing dan menasehati mereka.
Salam,
Rombengus
living life and love to the fullest...
Wednesday, June 22, 2005
Ingin sesabar guru TK
Posted by rombengus at 4:26 PM
