Seorang pak Lurah di usia pertengahan 40 tahun mendadak menjadi genit dan gemar menggoda gadis-gadis belia. Peristiwa ini membuat si Benong ‘mengkritik’ kegenitan pak Lurah dalam karya karikaturnya dengan mengatakan bahwa pak Lurah tengah mengalami Sindrom-Mencolek-Pantat-Tetangga.
Tiba-tiba, karya karikatur Benong ini ‘dikritik’ oleh si Cenong. Sebuah kritik yang dikritik! Meskipun karya karikatur Benong itu disukai dan menjadi inspirasi bagi banyak orang termasuk bagi sesama tukang karikatur, Cenong mengkritik karya tersebut karena dianggapnya tidak pas, tidak sesuai dengan standar (atau kehendak pribadi) Cenong.
Lebih dahsyat lagi, Cenong juga mengkritik diri Benong. Benong dikritik sebagai Pecundang-Kurang-Kerjaan karena gemar membuat karya karikatur. Cukup ajaib memang fenomena ini, sebab Cenong belumlah mengenal Benong tetapi Cenong berani melemparkan kritik pedas terhadap diri dan eksistensi Benong.
Sebenarnnya Benong adalah seorang seniman seni rupa jebolan IKJ yang sudah punya jam terbang lumayan banyak di dunia seni Indonesia. Tapi Cenong sama sekali tak tahu fakta ini saat ia mengkritik Benong. Cenong sendiri adalah seorang manajer penjualan di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Sebagai orang penjualan (sales), angka penjualan lah yang selalu memberkas di benaknya. Cenong memandang sebelah mata pada seni. Meski buta seni, Cenong berani mengkritik Benong.
Ternyata si Cenong yang gemar mengkritik juga tak lepas dari kritikan Denong, istrinya. Belakangan ini Denong sering dikritik istrinya karena kemampun Cenong di ranjang. “Kurang perkasa...,” ungkap Denong. Tetapi Denong lebih bijaksana dari Cenong karena Denong tak langsung mengkritik Cenong. Denong memberi kesempatan Cenong selama 2 minggu untuk berusaha memperbaiki ‘kinerja’nya. Setelah mengetahui bahwa tak ada usaha yang dilakukan Cenong, barulah Denong mengkritik kemampuan Cenong.
Denong sendiri juga sering mendapat kritik dari atasannya. Bla...bla...bla...
* * *
Kenyataannya kritik mengalir keluar-masuk setiap individu. Kita melemparkan kritik dan juga menerimanya. Jaringan kritik ini bila digambarkan alurnya akan sangat ribet, mungkin sketsanya akan mirip seperti jaringan para pemakai internet di dunia yang menyerupai jaring laba-laba raksasa.
Fakta juga membuktikan bahwa tak ada seorangpun yang bisa lolos dari kritik. Betapa pun hebatnya gagasan kita, bakat kita, posisi kita, karya kita; kita tetap menjadi sasaran kritik!
Sebenarnya mengkritik adalah proses yang sangat manusiawi. Setiap orang ingin mengeluarkan pendapatnya dan ingin didengarkan. Kita juga suka mengomel bila ada sesuatu yang tidak beres atau tidak berkenan di hati.
Tetapi ada orang yang –secara sadar atau tidak- melakukan kritik secara dominan dalam hidupnya. Orang-orang dalam kategori ini kerjaannya mengkritik saja. Mereka dijuluki ‘si pengkritik’. Bila ada hal yang sedikit berbeda, si pengkritik akan langsung mengkritik secara instan. Para pengkritik pun sering melakukannya secara aktif dengan mencari-cari kesalahan/kekurangan suatu hal atau kesalahan orang lain (ini adalah sifat dasar pengkritik).
Mengapa pengkritik suka mengkritik? Dr. L. Parrott, seorang profesor psikolog dari Amerika, membeberkan alasannya:
- Seringkali pengkritik yakin bahwa kritik mereka berguna. Dengan keyakinan ini, pengkritik melempar kritikan-kritikannya tanpa diminta.
- Semata-mata didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan masalah. Dalam hal ini si pengkritik melihat suatu hal adalah salah dan memaparkan jalan keluarnya. Namun jalan keluar itu justru terdengar sebagai kritikan daripada bantuan.
- Pengkritik merasa sudah menjadi tugas mereka untuk menemukan kesalahan. [Mungkin pengkritik seperti ini ingin menjadi pahlawan dengan mencari-cari kesalahan orang/karya orang lain? Atau memang hobi? Atau kurang kerjaan?]
- Banyak orang dibentuk menjadi pengkritik sejak kecil. Hal ini terjadi bila orang tua sering mengomeli anaknya sejak kecil. Lalu anak tersebut berpikir bahwa mengomel adalah normal/wajar dan ikutan jadi si pengomel. Setelah beranjak dewasa, si anak tadi secara tak sadar menjadi si pengkritik.
Alasan lainnya, adapula kritik yang merupakan luapan emosi. Misalnya kisah si Benong dan Cenong tadi, bisa jadi masalah utama Cenong adalah hubungan dengan istrinya, bukan dengan Benong. Dan saat melihat karya karikatur Benong, Cenong membebaskan diri dari emosi-emosinya yang terpendam dengan satu ledakan dalam bentuk kritik atas karya Benong itu.
Dr. Parrott juga menyarankan agar kita memilah para pengkritik karena tidak semua pengkritik berniat negatif. Secara garis besar ada 2 tipe pengkritik yaitu: pengkritik picik yang mengkritik untuk memuaskan ‘ego’ diri mereka sendiri dan motivasinya ingin menjatuhkan orang lain. Dan pengkritik yang merasa sangat bertanggung jawab atas diri kita yang yakin kritiknya dapat memperbaiki diri dan kinerja kita.
Dari alasan-alasan tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa hal yang utama yang harus diperhatikan dari sebuah kritik adalah ‘motivasi’ daripada si pengkritik.
Walaupun kritik adalah bagian dari keseharian kita, setiap orang pasti tak suka dikritik. Umumnya kita akan marah, ingin protes dan membalas bila dikritik. Malangnya lagi, kita tak bisa minta agar para pengkritik itu diam dan berhenti mengkritik. Sangat sulit untuk mengubah karakter seseorang.
Meski demikian, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menghadapi kritik:
1. Bersikap tenang dan tidak membalas. Adalah sangat disarankan untuk tidak menyerang balik dan tidak membalas dendam pada pengkritik. Kita perlu bersabar dan mencari tahu ‘motivasi’ daripada si pengkritik. Dan kita juga perlu memberi tahu motivasi kita pada si pengkritik secara terbuka agar tidak disalahartikan.
2. Tempatkan masalah secara proporsional karena ada kritik-kritik yang tak perlu kita perdulikan dan ada yang perlu diperhatikan untuk masukan.
3. Bila kita dituduh dengan tidak benar, kita berhak menyangkal tuduhan yang dilontarkan dengan jawaban-jawaban cerdas tanpa membela diri.
4. Hindari situasi ‘menang-kalah’. Karena sebagai manusia, kita selalu ingin menang. Dan setiap orang ingin ‘menggebuk’ yang terakhir. Proses argumentasi dalam kritik pun demikian.
5. Bila perlu, kita dapat membahasnya dengan teman dekat yang dipercaya. Karena berbagi beban dengan teman dapat meluruskan pikiran dan mengurangi beban diri.
Dr. Parrott menambahkan 2 hal penting lainnya untuk menghadapi kritik, yaitu:
6. Kenali bagian sensitif dari diri kita. Misalnya si Cenong sensitif bila kemampuan seksualnya dibahas, Cenong perlu melindungi bagian itu; dan bila perlu Cenong bisa katakan ke pengkritik bahwa bagian itu terlarang untuk dikritik.
7. Pahami perbedaan jenis kelamin. Secara umum wanita lebih cerewet daripada pria (meskipun tak sedikit wanita pendiam). Dan umumnya pria ingin berada dalam posisi lebih unggul (superior) daripada wanita.
Pada akhirnya, hendaknya kritik tidak membuat kita putus asa, patah semangat atau berhenti berprestasi. Tetapi –idealnya- kita harus seperti ‘pegas’ yang semakin ditekan semakin tinggi lompatannya. Semakin banyak kita dihujani kritik pedas -yang kadang bahkan berupa caci maki atau sumpah serapah- prestasi kita harus semakin baik. Banyak kog orang-orang hebat yang dulu mengalami hal ini. Contohnya saja, dulu Renoir pernah disuruh berhenti melukis oleh orang-orang sekitarnya karena dianggap tidak berbakat, tetapi, lihatlah kini betapa lukisannya sangat dihargai di seluruh dunia.
Dan bagi para pengkritik, berhati-hatilah dalam mengkritik karena kritik yang kita buat seobyektif mungkin sifatnya selalu rentan. Karena kita melihat suatu hal bukan sebagaimana hal itu adanya tetapi sebagaimana keadaan/kondisi diri kita. Seperti yang dikemukakan Stephen Covey, pimpinan Covey Leadership Center dan Institute for Principle-Centered Leadership, bahwa “Kita melihat dunia bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya. Atau sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya.”
Selain itu, mengkritik erat kaitannya dengan menghakimi. Dan agama manapun tidak memperbolehkan kita untuk menghakimi sesama.“Ukuran yang kita pakai untuk mengukur orang lain, akan diukurkan pada diri kita sendiri...”
Salam,
Rombengus, kritikus (?)
Catatan: Teori-teori disadur dari buku-buku karya Dr. L. Parrott, Dr . G. A. Getz, Stephen Covey dan opini pribadi.
living life and love to the fullest...
Monday, May 30, 2005
Terjerat dalam rantai kritik
Posted by rombengus at 11:05 AM
