living life and love to the fullest...

Friday, April 29, 2005

Yuk kita melancong!

Dalam bukunya yang berjudul Simplify your work life, Elaine St. James mengutip majalah Times yang mengatakan bahwa dengan mengambil cuti panjang, tingkat kematian berkurang sebesar 21%. Hal ini benar adanya, karena selain bekerja, kita pun perlu relaksasi. Kita bukanlah mesin yang terus-menerus bekerja. Mesin saja ada waktunya diberhentikan untuk perawatan, diberi oli, dsb. Lebih lagi, berlibur juga penting bagi para pasangan, karena banyak kasus dimana pasangan berpisah/bercerai akibat keduanya terlalu sibuk dan tak ada waktu bersama. Nah, bila demikian halnya, gimana kalo pergi liburan bareng?

Elaine St. James juga mengungkapkan bahwa orang-orang Eropa mengambil cuti panjang mereka, sementara orang Amerika rata-rata tidak. Hal ini juga dapat dibenarkan karena orang-orang Eropa –terutama Eropa barat- mempunyai kebiasaan melancong sejak usia muda (biasanya sejak masa kuliah). Rasa ingin tahu mereka akan negeri-negeri seberang begitu besar. Tak heran orang Eropa berekspedisi kemana-mana, dan menemukan Amerika, Australia, Selandia Baru, Canada, dan lainnya.

Anak muda Eropa biasanya membuat rencana perjalanan mereka dari jauh-jauh hari. Bisa 1-2 tahun sebelumnya (orang Eropa memang perencana tangguh). Misalnya saat ini mereka berencana untuk pergi ke Maroko pada libur musim panas tahun 2006 (sekitar bulan Juli-Agustus). Lalu mereka mencari informasi mengenai dana yang diperlukan. Dan bila telah mendapat prediksi, mereka pun mulai bekerja paruh waktu dari bulan September 2005 sampai Juni 2006. Ada yang bekerja di resto, perpustakaan, menjadi loper koran, tukang bersih-bersih (cleaning service), kasir supermarket, dsb.

Demi bisa berlibur, anak muda Eropa rela menahan diri untuk tidak meng-upgrade telepon seluler mereka. Perlu diketahui bahwa penjualan ponsel di Eropa tidak seheboh di Indonesia (pasar ponsel terbesar di dunia kan di Asia). Hal ini dikarenakan orang Eropa sangat berorientasi pada ‘fungsi’. Selama alat tersebut masih dapat dipakai, ya buat apa beli baru? Tak heran bila jaman gini masih banyak orang Eropa yang memakai ponsel Nokia model pisang, ponsel Motorola atau Ericsson yang gede, yang di Indonesia udah masuk museum!

Satu hal lagi yang perlu diketahui, anak-anak muda Eropa itu umumnya bepergian sebagai turis ransel (backpacker). Turis ransel ini dinamakan demikian, karena mereka membawa ransel besar di punggung. Meski ransel ini menjadi ikon utama mereka, tapi inti ber-backpacker adalah berusaha mencari alternatif hemat dalam berlibur.

Akhir tahun 80an lalu – kalau tak salah ingat tahunnya – masyarakat kita heboh membedakan antara turis ransel dan turis koper. Kita menganggap bahwa turis ransel yang menginap di Jalan Jaksa (Jakarta Pusat) itu miskin/kere, tak seperti turis koper yang menginap di hotel berbintang. Sebenarnya kita tak perlu beranggapan demikian terhadap para turis ransel ini, sebab, bila dilihat dari keanggotaaan asosiasi turis ransel dunia (ada asosiasinya lho!), anggota mereka adalah anak-anak muda. Dan bisa jadi saat muda (masih kuliah atau awal karir) mereka menjadi turis ransel, tapi kelak saat telah menjadi ‘orang’, mereka akan berlibur eksklusif bersama istri/suami dan anak-anaknya.

Selain itu, ada banyak penulis dan seniman-seniman yang ‘sengaja’ ber-backpacker-ria, karena lebih banyak yang bisa ‘didapat’. Dengan menjadi turis ransel, kita bisa ketemu dengan banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Misalnya gini, dengan menjadi turis ransel, kita menginap di hostel pemuda (youth hostel) dimana kita harus berbagi kamar dengan orang lain (tentu saja dibedakan kamar untuk perempuan dan untuk laki-laki). Dan kita bisa kenalan dengan teman-teman sekamar. Belum lagi saat sarapan bersama, kita juga bisa kenalan dengan yang lainnya, ngobrol-ngobrol, saling bertukar tips-tips liburan dan bukannya tak mungkin kita malah bisa bertemu sahabat atau bahkan jodoh! Kalau plesiran eksklusif, masa kita mau gedor kamar sebelah buat kenalan?

Namun sedihnya, turis ransel ini kurang nyaman dan kurang aman untuk melancong di Indonesia. Apalagi bila yang melancong adalah perempuan dan sendirian pula. Pasti deh digodain… Wong pake celana pendek aja udah diliatin orang-orang! Ironis memang, katanya kita adalah bangsa yang bermoral tinggi, ramah dan beragama, tapi kog perempuan melancong sendirian kurang aman yah? Di negara-negara Eropa timur yang ex-komunis saja jauh lebih aman dan nyaman bagi perempuan untuk melancong sendirian.

Walaupun demikian, kita tetap bisa meniru si turis ransel ini. Tak berarti kita harus menggendong ransel, tapi kita bisa tiru cara mereka membuat rencana berlibur dan upaya mereka dalam mewujudkannya. Selain itu, cara-cara ‘hemat’ dalam berlibur juga bisa kita tiru. Tak usah ke luar negeri dulu deh, tapi kunjungilah propinsi-propinsi di Indonesia. Misalnya saat ke Bali, kita bisa menginap di kamar milik penduduk yang bisa disewa. Tarif menyewa kamar tsb selama sebulan, sama dengan menginap semalam di hotel bintang 4/5. Untuk transportasi, beruntunglah karena penerbangan hemat (low-cost flight) telah merambah ke Indonesia, yang bisa menekan biaya transportasi untuk berlibur.

Saran tambahan dari Rombengus, berlibur jangan hanya untuk rileks/refreshing saja, tetapi cobalah pelajari budaya setempat, buka wawasan dan perluas pergaulan. Kita bisa mendapat banyak manfaat dari berlibur lho…

Jadi, bagaimana bila kita mulai membuat rencana dan sisihkan dana untuk berlibur? Mungkin bisa dimulai dengan mengunjungi propinsi-propinsi tetangga dulu. Misalnya bila kita tinggal di Jakarta, kita bisa berlibur ke Banten atau Jawa Barat atau Lampung. Dekat, terjangkau, dan indah …

Berlibur itu penting untuk kebutuhan jiwa lho…

Turut menyukseskan pariwisata Indonesia!

Rombengus

d