Sejak jaman dulu hingga kini ada banyak sekali karya-karya manusia yang mengangkat tema tentang cinta. Entah itu berupa lagu, film, pertunjukan teater, wayang, puisi, novel, lukisan, foto, patung, dan sebagainya. Kenyataannya, orang-orang tak pernah bosan membahas soal cinta. Cinta memang kagak ada matinya!!
Bentuk cinta yang paling sering diungkapkan adalah cinta antara sepasang manusia. Cinta kepada orang tua, saudara, atau teman, kurang terdengar gaungnya dibandingkan dengan cinta antara sepasang manusia. Hal ini sangatlah wajar mengingat betapa dahsyat perasaan yang melanda orang-orang yang sedang dilanda asmara. Sampai-sampai ada yang mengungkapkan rasa cinta itu dengan ‘jatuh cinta sejuta rasanya’. Sejuta disini tidak berarti angka satu juta yang dijitnya ada 7, tetapi merupakan ekspresi bahwa rasanya luar biasa, terlalu implicit untuk dijelaskan.
Ada banyak lagi istilah yang mengekspresikan perasaan jatuh cinta, namun demikian, pernahkah anda berpikir mengapa disebut dengan ‘jatuh cinta’? Mengapa bukan ‘bangkit cinta’ atau ‘meledak cinta’ atau ‘sadar cinta’ atau istilah lainnya? Mengapa disebut dengan ‘jatuh cinta’?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jatuh cinta mempunyai definisi yang serupa dengan jatuh hati, yang berarti menaruh cinta kepada sesuatu/seseorang Dan jatuh cinta dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa asing. Dalam bahasa Inggris, jatuh cinta disebut dengan ‘fall in love’ (to fall = jatuh, love = cinta atau kasih). Dan dalam bahasa Perancis – yang kerap disebut sebagai bahasa paling romantis di dunia – dikenal dengan istilah ‘tomber amoreux’ (tomber = jatuh/ambruk, amour = cinta).
Secara logis, kata ‘jatuh’ dipilih untuk mewakili keadaan ketakberdayaan manusia yang sedang kasmaran…
Kita tidak berdaya saat jatuh kepleset, buktinya kita tetep saja jatuh (kalo kita berdaya, kita pasti gak jadi jatuh). Demikian juga saat dilanda asmara, manusia sama sekali tak berdaya… Bahkan bila proses jatuh cinta itu tak terkendali, kita bisa jatuh dalam sekali… ambruk… terkapar… betul-betul tak berdaya…
Ketakberdayaan ini disebabkan karena sifat jatuh cinta yang serba tak terduga. Kita gak tau kapan kita akan jatuh cinta, kepada siapa kita akan jatuh cinta, berapa besar/dalam cinta kita ke orang itu dan bagaimana kualitas cinta yang dihasilkan saat proses jatuh cinta itu. Contohnya, mungkin besok anda sedikit jatuh cinta dengan Rombengus, dan bulan depan anda jatuh cinta secara mendalam dengan si Bona (gajah kecil berwarna merah jambu?). Siapa yang tau??
Secara manusiawi kita memang ditakdirkan untuk tak berdaya dengan hal-hal yang tak terduga. Bukan hanya urusan cinta, perkara hari besok bakal gimana pun gak ada yang tau (kecuali paranormal yang bisa tau?). Bahkan orang jenius, presiden, tokoh politik, profesor bidang metafisika, ahli ekonomi sampai tukang sapu jalanan di ancol pun kagak ada yang bisa tau!
Lebih repot lagi dengan urusan cinta, proses jatuhnya tak bisa dipaksakan. Ada teman yang berusaha untuk jatuh cinta dengan Rong Rong (temennya Bona), tapi – biar diupayakan dengan segala macam cara - kalo cinta tak mau jatuh/menclok diantara mereka, ya gak bakal jadi. Dan tanpa cinta, hubungan selanjutnya akan berjalan dengan kurang nyaman. Ada sih yang nekat menjalin hubungan tanpa cinta, nekat menikah tanpa cinta; dan itu tak masalah bila keduanya siap dengan resiko yang bakal datang.
Akhir kata, jatuh cinta sebenarnya bisa jadi bukti bahwa kita sebagai manusia itu gak ada apa-apanya. Kita sebenarnya hanya manusia yang serba terbatas keberdayaannya. Meskipun kita punya segudang atribut (gelar, profesi, dsb) kita tetap aja manusia, yang tak berdaya terhadap jatuh cinta…
Salam cinta!
Rombengus
living life and love to the fullest...
Saturday, April 23, 2005
Jatuh cinta sejuta rasanya
Posted by rombengus at 2:36 PM
