Ini kisah si Tambo, seseorang yang dari kecil selalu dijauhi teman-temannya karena dianggap aneh. Kejadian penolakan ini terus berlangsung sejak SD, SMP hingga SMA. Tambo tak mempunyai teman… Untungnya keadaan ini berkurang saat kuliah dimana Tambo menemukan beberapa teman yang baik di bangku kuliah. Namun Tambo kembali mengalami penolakan yang sama di tahun pertamanya bekerja, tapi kini keadaan telah berubah, dia telah mempunyai banyak teman di kantornya…
Dulu Tambo sering bertanya, “Apa yang salah dengan saya? Kenapa mereka tak mau berteman dengan saya? Kenapa saya dibenci tanpa alasan?” Sebenarnya tak ada yang aneh dengan diri Tambo, dari segi fisik, perilaku maupun pikiran/mental. Tapi entah mengapa dulu tak ada yang bersedia untuk berteman dengannya. Untungnya, Tambo masih mendapat dukungan keluarga dan spiritualnya (iman agama) juga lumayan kuat, jadi dia bisa bertahan. Bila tidak, kemungkinan besar Tambo sudah stress berat, hancur lebur…
Kisah orang yang ditolak dan memiliki aneka masalah dalam hidupnya - tapi tak memiliki dukungan keluarga dan spiritual - dapat disimak dari lagu Nobody’s home-nya Avril Lavigne yang tanggal 4 April lalu konser di Jakarta. [Konon lagu inilah yang menjadi tonggak kedewasaan Avril, meski usianya belum genap 20 tahun. Di negeri seberang sana penggemar Avril bukan hanya para ABG tapi juga golongan pekerja]. Di lagu ini Avril mengekspresikan seorang gadis yang menjadi depresi dan tak punya arah tujuan karena tertolak oleh lingkungannya, “She's lost inside, broken inside…”
Kembali ke kisah Tambo, untung saja Tambo tak mengalami depresi seperti gadis yang diceritakan oleh Avril. Meski tak berteman, Tambo tetap dapat menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Meski tak berteman di kantor, Tambo tetap dapat bekerja maksimal. Meski tak berteman, Tambo terus berjuang dalam kesendiriannya…
Dan kini, kehidupan Tambo sangat baik. Karirnya sebagai insinyur di sebuah perusahaan minyak terkemuka terus meningkat, dan kini dia punya teman-teman yang baik (termasuk diantaranya Rombengus. Ehem…)
Kisah lain, kisah yang dialami Gromba. Beberapa tahun yang lalu Gromba ditolak untuk bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Saat itu, manajer proyek (MP) perusahaan tsb mencari seorang asisten untuk membantunya membuat sistem informasi untuk rantai distribusi/penyediaan barang (supply-chain). Namun MP tsb ‘kurang sreg’ dengan Gromba dan menolaknya…
Tak disangka, Gromba bukannya jadi hancur dan terpaku dalam duka, tapi dia malah ‘bangkit’ dan mendalami sistem informasi tsb. Kini, Gromba telah menjadi salah satu ahli di bidang itu, dia telah mendirikan perusahaan jasa konsultasi untuk bidang tsb dan juga telah mengembangkan teori-teori baru mengenai sistem informasi itu. Sementara si MP - yang dulu pernah menolaknya - kini tetap menjadi MP (tak jua berkembang?), dan MP tsb kini malah memakai teori-teori yang dibuat oleh Gromba, sang mantan calon asistennya dulu…
Kisah-kisah serupa memang sering terdengar. Dan dalam hal cinta juga tak kalah serunya. Misalnya kisah yang diungkapkan Avril dalam lagu Sk8ter boy [lagu ini difilmkan oleh Hollywood untuk pasar ABG]. Lagu ini berkisah tentang pemuda ABG yang jatuh cinta dengan gadis bergaya ‘priyayi’ dan gadis itu menolaknya. Setelah mereka dewasa, si pemuda berhasil menjadi penyanyi rock terkenal, sementara si priyayi menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak tanpa suami…
Dalam kasus Tambo dan Gromba, penolakan adalah turning point bagi mereka untuk bangkit, berusaha mencari jalannya sendiri dan - beruntungnya - mereka berhasil. Kisah mereka menjadi bukti bahwa penolakan bukanlah akhir dari segalanya… Memang diperlukan kekuatan untuk bangkit kembali; dan orang-orang yang ‘kuat’ ini bukannya hancur tapi malah mengambil hikmah dari setiap penolakan yang mereka alami…
Dari sudut pandangan yang berbeda, penolakan malah bisa jadi berkat!! Bila Tambo punya banyak teman semasa sekolah dulu, mungkin dia akan main melulu dan tak sesukses sekarang. Dan seandainya Gromba dulu diterima bekerja, bisa jadi dia masih jadi asisten MP, tak berkembang untuk menjadi ahli di bidangnya seperti sekarang ini.
Dan bagi yang melakukan penolakan, Rombengus gak habis pikir kenapa ada orang yang bisa membenci orang lain tanpa alasan [Apakah karena sirik? Sepengamatan Rombengus budaya sirik-menyiriki semakin dahsyat saja di Indonesia]. Kenapa sih harus membenci dan menjauhi orang yang tidak kita sukai? Perbedaan dan ketidakcocokkan kan tak berarti harus bermusuhan? Dan bila memang kita tak ingin dekat dengan seseorang, bukankah lebih baik bila dilakukan dengan cara yang halus tanpa perlu menyakiti perasaannya?
Sementara untuk kasusnya Gromba dan kasus cinta ala sk8ter boy, bila memang harus menolak seseorang ya tolak saja, tapi tolong dilakukan dengan cara yang baik dan dengan alasan yang logis. Malu ah bila kita melulu menghebohkan budaya barat yang gono-gini, tapi kita sendiri yang katanya berbudaya timur yang ramah tapi gak bisa menerapkannya (sekedar romantisme budaya timur?)
Dan alangkah bijaksananya bila kita tetap menjalin hubungan yang baik dengan orang yang kita tolak, karena kita gak tau apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bisa saja saat ini posisi kita superior (bisa nolak orang) tapi kelak malah kita yang butuh bantuan orang itu…
All my life I dreamd in color
Every rainbow had a meaning, I discovered
Everyone said I would in lost
They all said that I was thing of the past
They try to bring me down, had to swallow my proud
Nobody knew what I knew, I would survive
Don't let them get in your head, negative words they spread
The truth of it is, I still believe
For every tear I cry
Every wish goes by
Every dream I kept inside
For every mile I walked
Every race I lost
Everyday that I ran out of time
Like every song I sung, Everyone I've known
Every night I spend alone
Like every horizon, I keep on trying
Like the sun I'll be risin’
[Risin’ by Natalia - Belgian Idol]
Salam damai!
Rombengus
Catatan: Ditulis untuk teman saya CLW, “Hope that I can support you more…”
living life and love to the fullest...
Saturday, April 16, 2005
Penolakan, bukan akhir dari segalanya…
Posted by rombengus at 9:16 PM
