living life and love to the fullest...

Monday, April 11, 2005

Sonda yang ingin menjadi ahli kura-kura…

Sebut saja Sonda, anak Indonesia yang ingin sekali kuliah doktoral (S3) di bidang kedokteran hewan spesialisasi kura-kura di Eropa. Status Sonda yang independent alias tidak terikat dengan sebuah universitas (bukan seorang dosen), membuatnya harus berjuang seorang diri untuk mendapatkan kesempatan kuliah S3 di Eropa. Konon bila anda seorang dosen, kesempatan untuk kuliah S3 sangat besar. Apalagi sekarang ini ada banyak sekali beasiswa ditawarkan untuk para dosen Indonesia.

Mencari S3 di Eropa berbeda dengan di Amerika Serikat (AS). Untuk ke AS, kita perlu prestasi akademis yang baik, mengikuti test TOEFL dan GRE/GMAT (tergantung bidang studi), lalu mendaftar ke universitas ybs. Nanti pihak kampus yang akan mencocokkan kemampuan kita dengan proyek penelitian yang ada, mencarikan profesor calon promotor serta peluang mendapatkan beasiswa. Jadi setelah mendaftar kita tinggal menanti sambil berdoa saja…

Untuk ke Eropa, prosesnya lebih rumit. Sonda tak bisa langsung mendaftar tapi harus mencari promotornya sendiri. Sonda habiskan waktunya untuk browsing di internet mencari universitas yang ada fakultas kedokteran hewan, kemudian mencari profesor ahli kura-kura, mempelajari apakah profesor tsb punya minat penelitian (research interest) yang sejalan dengannya, punya proyek penelitian yang cocok dengannya; lalu menghubungi profesor tsb dan meminta kesediaan beliau untuk menjadi promotornya.

Bila Sonda telah mendapatkan promotor, dia akan berurusan dengan dana penelitian (jadi ada 2 hal utama yang harus Sonda cari yaitu promotor dan dana penelitian). Umumnya promotor akan membantu mahasiswa mendapatkan dana penelitian. Dan dana itu bisa berasal dari proyek penelitian si profesor ybs, dari pihak universitas, pemerintah lokal, Uni Eropa, dsb. Sekedar informasi, mahasiswa S3 di Eropa statusnya adalah karyawan universitas - bukan lagi mahasiswa - jadi mereka mendapat gaji bulanan, dan gaji itu adalah bagian dari dana penelitian.

Sonda telah menghubungi banyak sekali profesor yang ahli di bidang kura-kura. Dan sedihnya, meskipun para profesor tsb bersedia untuk menjadi promotor Sonda tetapi Sonda tak jua berhasil mendapatkan dana penelitian. Cukup tragis memang nasib Sonda ini. Sebab anak Indonesia lainnya umumnya kesulitan mendapatkan profesor/promotor (biasanya mereka bingung bagaimana harus mencarinya), sementara Sonda bisa mendapatkan promotor dengan cukup mudah, tapi tak jua mendapatkan dana penelitian.

Sonda sudah capai mencari, menanti dan juga menangis. Rombengus pun mulai bingung bagaimana lagi harus membantunya. Namun, seperti ungkapan “orang yang mencari akan mendapatkan, orang yang meminta akan menerima” akhirnya Sonda mendapatkan dana penelitian dan memulai S3nya. Tak tanggung-tanggung, Sonda dapat kesempatan untuk menempuh S3 di universitas favorit dengan salah satu profesor pakar kura-kura di Eropa.

Yang menjadi hikmah dari kisah Sonda ini adalah: Saat Sonda mencari promotornya, dia berkenalan dan menjalin hubungan yang baik dengan para profesor pakar kura-kura di Eropa. Dan selama kuliah, Sonda mendapat dukungan penuh, bukan hanya dari promotornya sendiri tapi juga dari para pakar tsb. Dengan kata lain, orang lain biasanya kuliah dulu baru mengenal orang-orang di bidangnya, sementara Sonda mengenal orang-orang ahli di bidangnya dulu baru mulai kuliah.

Kita selalu mengira bahwa mencari dan menanti adalah proses buang waktu dan sia-sia belaka. Penantian yang panjang pun kerap membuahkan keputusasaan dan kehilangan motivasi. Mungkin ada yang capai berusaha bertahun-tahun dan tak jua mendapatkan yang diinginkan, seperti mendapatkan beasiswa, pekerjaan, pacar (pacar harus dicari?), dsb. Segala sesuatu ada waktunya… dan semoga kisah Sonda ini menguatkan kita semua untuk terus berusaha…

Salam,
Rombengus

Catatan: Rombengus gak tau apakah memang ada spesialisasi kura-kura. Kura-kura dipilih sebagai obyek karena geraknya yang lambat, selambat waktu berlalu saat kita menantikan sesuatu

d