living life and love to the fullest...

Tuesday, April 12, 2005

Budaya timur, budaya barat. Budaya?

Selama berada di tanah air, Rombengus sering menjumpai banyak anak muda memakai kaos rangkep. Kaos bagian dalam berlengan panjang dan kaos luarnya berlengan pendek. Busana seperti ini cukup aneh dipakai di negeri tropis yang panas seperti di Indonesia. Di negara 4 musim, biasanya kostum semacam ini dipakai saat musim gugur dan musim semi, dimana dinginnya nanggung. Pakai baju panas (sweater) kepanasan, pakai kaos 1 lapis kedinginan. Jadi kaosnya dirangkep aja.

Lebih dahsyat lagi, Rombengus pernah melihat seorang pembawa acara di sebuah TV swasta di Indonesia memakai jaket tebal berbulu. Perasaan di luar panas terik deh, kenapa dia pakai jaket tebal yah? Mungkin dalam studio sedang musim dingin?

Pada kenyatannya, kita seringkali mengadopsi hal-hal dari luar (barat) secara blak-blakan. Namun di sisi lain, ada budaya barat yang diantipatiin habis-habisan dan dianggap tabu. Dan semua itu kita lakukan tanpa terlebih dulu mencari tahu kisah di baliknya… Padahal, banyak budaya barat yang berasal dari kebiasaan dan keadaan setempat. Berikut ini beberapa contohnya:

1. Alkohol

Kita sering mengklaim bahwa alkohol adalah budaya barat yang bertentangan dengan budaya timur. Kenyataannya, orang Jepang juga minum sake yang ada kandungan alkoholnya. Dan di negara ‘semi bule’ seperti Turki juga punya kebiasaan minum alkohol dan menghisap pipa. Silahkan kunjungi kota-kota besar di Turki seperti Istanbul dan Ankara, di sana anda akan menyaksikan para eksekutif muda dengan busana kantor rapi nongkrong di warung kopi pada jam kantor sembari minum raki (minuman alkohol khas Turki), menghisap pipa dan main backgamon. Orang Turki memang terkenal malas (seperti orang Indonesia?)

Dari sejarahnya, Eropa mengalami masa susah di abad pertengahan dulu. Kemudian mereka berusaha membuat diri mereka sedikit rileks dengan alkohol. Lalu muncullah industri anggur (wine) di Eropa bagian selatan (di Spanyol, Italia, Perancis bagian selatan dan Portugal) dan industri bir di Eropa bagian utara (anggur tidak tumbuh subur di utara Eropa).

Di belahan dunia lain, masyarakat di wilayah Amerika Latin menggunakan tembakau dan kokain untuk rileks. Sementara di Indonesia tercinta, kita asik merokok kretek (rokok kretek kita kan gak bisa diekspor ke Eropa/AS karena kadar nikotinnya berlebihan).

2. Samen leven/cohabitation/live together/hidup bersama

Secara umum, masyarakat negara barat melakukan ini karena faktor pajak. Pajak penghasilan di negara maju itu amit-amit besarnya, rata-rata 40% (kalo ada temen/sodara yang bekerja di luar negeri dan bicara soal gaji, tanya gaji bersihnya). Bila menikah, penghasilan suami dan istri akan diakumulasikan sehingga jumlah pajak yang harus dibayar akan jauh meningkat. Pajak kan ada range-nya, semakin besar jumlah gaji yang diterima berarti semakin besar pajak yang harus dibayarkan. Bila pemerintah di sana mengubah kebijaksanaannya, Rombengus yakin mereka gak keberatan untuk menikah.

Alasan lainnya, mereka masih menganggap pernikahan sebagai suatu yang sakral. Mereka lebih suka hidup bersama dulu baru menikah daripada kawin-cerai seperti ‘budaya’ Indonesia.

3. Busana seksi

Soal busana seksi, ini jelas berkaitan dengan cuaca. Rombengus bisa mengerti kenapa mereka suka pakai baju minim di musim panas. Bayangin aja deh, dari bulan November sampai Maret mereka kedinginan, suhunya bisa di bawah 0°C dan bersalju. Lalu, tau-tau di bulan Juni (hanya 3 bulan setelah kedinginan) cuaca berubah menjadi panas terik dengan suhu 30°C (tahun 2003 lalu pernah mencapai 40°C di Eropa bagian selatan). Yang ada mereka pada kepanasan dan otomatis memakai baju seminim mungkin.

Mereka sama sekali tak ada pikiran menggunakan busana minim supaya tambah seksi dan menggoda, tapi jelas karena kepanasan. Rombengus saja langsung mengganti celana pendek serta kaos oblong saat mendarat di Jakarta. Panas buanget! Hal ini sama dengan anak Indonesia yang baru datang ke Canada di bulan Desember, pasti dia akan mengenakan baju setebal mungkin karena kedinginan.

Kemudian, perkara perempuan barat (bule) gemar berjemur dengan baju terbuka. Ehm, perempuan Indonesia kan ingin berkulit putih dan memakai aneka produk pemutih, perempuan bule ingin berkulit agak coklat (manusia memang gak ada puasnya!). Jadi mereka girang banget bila ada sinar matahari dan cepat-cepat berjemur. Dan karena mereka tidak suka ada garis BH di tubuhnya, dibukalah BHnya. Mereka gak berpikir untuk menggoda dengan melakukan ini, ”Gak kepikiran atuh…. wong mau coklatin badan!”

Sebenarnya, busana menggoda juga melekat di budaya timur. Misalnya baju sari tradisional India. Tanpa kain sari yang sekedar digerai di bagian luar, dalamnya itu baju ketat nan seksi. Lalu baju para penari Turki (tari perut) itu sangatlah seksi dan menggoda. Apalagi gadis Turki kan cakep-cakep dan pesolek pula. Betul-betul menggoda!

Baju kebaya tradisional kita pun pada dasarnya seksi, ketat dan bahannya tembus-pandang terutama di bagian lengan, dada bagian atas, serta punggung bagian atas. Bila bagian-bagian itu dicopot atau dibuat lebih tembus pandang, apa bedanya kebaya dengan baju seksi yang dipakai Madonna? Malah kebaya lebih tidak manusiawi dengan stagen dan kembennya yang super ketat sehingga pemakainya sulit untuk bernafas dan sulit makan.

###

Sebelum kita mengadopsi atau mengantipatiin hal-hal dari luar, alangkah baiknya bila kita cari tau dulu latarbelakangnya. Jangan asal klaim bahwa budaya barat itu tabu dan dikaitkan dengan agama pula, yang jelas-jelas gak ada hubungannya. Dan bila memungkinkan, daripada beli mobil lagi tahun ini, mendingan jalan-jalan ke luar negeri, mempelajari budaya luar secara langsung supaya pikiran kita terbuka…

Lagipula daripada mentah-mentah mengantipati atau menerima hal-hal dari luar, lebih baik kita urusin dulu ‘budaya’ kita sendiri yang lagi babak belur. Indonesia kan hingga kini terkenal dengan ‘budaya kekerasan dan korupsi’-nya (Jadi ini toch budaya timur yang kita banggakan itu?)

Merdeka!
Rombengus
http://rombengus.blogspot.com

Catatan: Rombengus tidak pro ataupun kontra dengan budaya barat/timur. Sederhana aja, yang baik diterima dan yang buruk perlu diketahui tapi gak usah diadopsi…

d