Waktu masuk SMA dulu, seperti anak-anak lainnya, saya juga diplonco. Dan suatu ketika kakak kelas yang memplonco nyeletuk tentang saya, “Gila, nih anak enjoy banget diplonco…” Teman-teman yang lain pada nangis saat dimarahin, tapi saya malah nahan senyum. Selesai diplonco, teman-teman pada bilang bahwa kakak yang itu galak dan marahnya sadis banget, tapi bagi saya kakak itu sama sekali tidak galak, “Hé? Galak? Galak apanya?”
Saya gak berasa digalakin/dimarahin karena saya asyik mengkhayal…
Jadi saat kakak-kakak itu teriak-teriak di telinga saya, saya ngayalin hal-hal yang menyenangkan seperti makan makanan enak, jalan-jalan ke pulau Bora-bora, dsb. Kalo kakaknya gak juga berhenti marahnya, saya ngayalin hal yang lucu tentang dia seperti membayangkan dia kecebur di got dan dia jadi dekil dan bau banget (ngayal doang lho bukan nyumpahin).
Sampai sekarang kalo ada yang marah ke saya, saya berusaha hanya menangkap inti/point marahnya (hal kenapa dia marah, siapa tau itu memang salah saya). Dan saat emosinya mulai meledak – misalnya dia mulai mengeluarkan kata-kata kasar, bahkan menghujat dan mengutuk - saya cepat-cepat alihkan pikiran ke hal-hal yang menyenangkan, supaya luapan emosi dia gak sampai masuk ke benak saya dan saya gak ikutan meledak juga.
Melakukan hal ini awalnya sulit, tapi lama-lama pasti bisa dan jadi kebiasaan…
Salah satu bentuk ketegangan lainnya yang menggoyahkan emosi dalam kehidupan sehari-hari adalah interview. Baik interview untuk kerja maupun kuliah atau lainnya. Interview biasanya diwarnai rasa gugup dan takut. Ini sangat wajar. Namun ketegangan yang berlebihan kadang membuahkan jawaban yang salah, jawaban yang kedengaran arogan, atau mungkin kita malah kehilangan semua jawaban alias gak bisa jawab.
Kebetulan beberapa hari yang lalu saya melakukan interview di Jakarta, dan ternyata yang menginterview (interviewer) adalah kakak kelas sendiri dan anaknya asik pula. Pelan-pelan saya berusaha menempatkan diri sebagai teman, berusaha menghilangkan batas antara si penentu (interviewer) dan si pemohon (yang diinterview). Dan akhirnya sepanjang interview kita malah bercanda-canda. Sangat menyenangkan. [Apa kabar Vina?]
Sepengalaman saya diinterview, yang paling sulit adalah saat diinterview oleh profesor. Diinterview oleh profesor tak lagi membahas soal kepintaran dan kemampuan/skill (kalo gak pinter dan kualifikasi akademis gak memungkinkan ya gak akan dipanggil interview), tapi mereka mencari orang yang tekun dan gigih untuk terus belajar dan punya karakter yang cocok untuk bekerja di laboratorium penelitiannya.
Banyak anak pintar tapi besar kepala (merasa udah yang paling pinter sedunia bahkan lebih pintar dari si profesor) dan gak diterima. Anak seperti ini biasanya sudah kebaca oleh si profesor dari tahap awal, saat surat-suratan (email-emailan) dengan si profesor. Namun tak sedikit pula anak pintar tanpa karakter bagus yang bisa diterima karena faktor kolusi. Sekadar bocoran, kolusi di lingkungan akademis itu keadaannya memprihatinkan…
Bila diinterview oleh profesor, saya berusaha menempatkan diri sebagai anak. Anak yang mau mendengar nasehat ortu dan mau belajar. Biasanya para profesor – yang mayoritas telah berumur - senang diperlakukan sebagai ortu. Dan sejak interview hingga kini, profesor pembimbing saya yang seorang ibu asal Perancis menganggap saya sebagai anaknya sendiri. Beliau heboh banget saat ada peristiwa tsunami dan gempa bumi di Indonesia. Dan bila ada pertemuan dengan beliau, pasti saya dijemput di bandara/stasiun meskipun beliau super sibuk. Dan beliau juga tak segan menangis di telepon saat memberitahukan bahwa ibunya meninggal dunia. Jadi, suasana anak-ortu yang dibangun sejak interview tetap berlangsung sampai jauh setelah proses interview itu berlalu.
------
Di samping ‘mengendalikan pikiran’ kita juga bisa ‘menciptakan suasana yang nyaman’ untuk mengendalikan emosi. Pada prinsipnya, emosi yang meluap-luap ada pencetusnya (bad mood juga merupakan salah satu pencetus) dan kita bisa mengusahakan agar ‘remote control bom pengendali emosi diri’ ada di tangan kita sendiri.
Mungkin kita pernah bertemu orang yang sedang dalam masalah besar, tapi dia tampak tenang sampai-sampai kita gak tau bahwa dia dalam masalah. Orang yang gak punya apa-apa, tapi bisa tetap tersenyum lebar. Orang yang tertindas dan dijauhi masyarakat, tapi bisa tetap melangkah maju. Sebenarnya mereka bukannya gak sedih dengan keadaannya, mereka sedih kog… Dan mereka juga bukan pakar dalam menyembunyikan perasaan, tapi mereka bisa mengendalikan emosi mereka. Mereka tau kapan saatnya emosi itu harus dikeluarkan dan bagaimana cara mengeluarkan yang baik. Mungkin dikeluarkan dengan cara memainkan alat musik sekeraskerasnya, atau jalan kaki keliling Jakarta, atau gedor rumah Rombengus tengah malam untuk curhat, atau lainnya.
Salam,
Rombengus
living life and love to the fullest...
Monday, April 11, 2005
Gila, nih anak enjoy banget diplonco…
Posted by rombengus at 3:38 PM
