Suatu hari di sebuah kantor di pusat kota Jakarta, seorang office boy yang telah bekerja selama 20 tahun di perusahaan tsb merasa dirinya yang paling tau soal perusahaan dan ngeremehin seorang supervisor yang baru saja direkrut. Meski posisi (level) mereka jelas berbeda, tetapi si supervisor dianggapnya sebagai ‘anak baru’…
Fakta lain, bila bertemu dengan sesama orang Indonesia di luar negeri (LN), pertanyaan yang kerap muncul adalah, “Sudah berapa lama tinggal di sini ?” (tinggal di LN maksudnya). Bila ditanya begini dan anda menjawab, “Baru 3 bulan...” maka si lawan bicara yang kebetulan telah tinggal lebih lama merasa unggul, “Saya sudah 10 tahun !”
Rombengus suka heran kenapa orang gemar bersaing dan merasa bangga telah tinggal lama di LN. Toch dia masih orang Indonesia juga, rambutnya masih hitam (belon jadi pirang kecuali bila dicat), warna matanya masih gelap (gak jadi biru/ijo), dan kulitnya masih sawo matang/kuning langsat. Kebiasaannya pun masih tipikal orang Indonesia yang suka gosip, kumpul-kumpul, masak dan makan-makan. Dan banyak pula yang logat daerahnya masih kental sehingga mereka berbahasa Indolish (indonesian english), Javlish (javanese english). Tak sedikit pula berbahasa Javdutch (javanese dutch) dan Javfrench (javanese french), maklum logat Jawa kan susah banget dihilangkan.
Kembali ke topik awal, pada dasarnya ini adalah perihal senioritas - junioritas. Berdasarkan teorinya, konstrain utama yang membuat seseorang menjadi senior atau junior adalah waktu (time constraint). Konstrain waktu ini bisa berkaitan dengan usia (lebih tua = lebih senior) dan bisa pula berkaitan dengan hal lebih dulu melakukan (lebih dulu mulai bekerja = lebih senior; lebih dulu masuk ke sebuah sekolah = lebih senior).
Senioritas adalah bagian dari budaya kita. Bukan cuma di Indonesia sih, konon budaya ini sangat kental di Jepang dan Korea. Bahkan di negara maju sekalipun budaya ini masih dapat ditemukan, tak terkecuali di lingkungan kampus/akademis yang katanya pusatnya ilmu dan orangnya pada pinter-pinter...
Membahas soal senioritas ini, Rombengus teringat saat masih di SMA (SMU) dulu. Saat selesai diplonco, seorang senior mengakui: “Senior tidaklah lebih hebat daripada junior, senior hanya lebih dulu tau…”
Pernyataan tsb mungkin terdengar arogan, tetapi ada benarnya lho… Contohnya gini deh, misalnya dalam hal kreativitas membuat iklan, bisa jadi seorang anak SMP lebih kreatif dan punya ide-ide dahsyat ketimbang para kreatif desainer yang telah bekerja full-time selama 7 tahun. Hanya saja si anak SMP itu tak memiliki posisi dan fasilitas yang memadai untuk bikin iklan beneran. Dan bila si anak SMP itu menjalani pendidikan dan punya jam terbang yang sama dengan kreatif desainer yang katanya profesional itu tadi, bisa jadi si anak SMP – di usia yang sama dengan si kreatif desainer – kelak akan jauh lebih hebat daripada si kreatif desainer.
Dari sudut pandang psikologis, merasa senior bukan hanya membuat gap antara diri kita dengan orang lain, tetapi juga dapat menghambat diri kita untuk belajar lebih dalam lagi. Misalnya kita merasa yang paling senior di departemen pemasaran (marketing). Karena merasa sudah berada di posisi puncak, kita pun enggan untuk belajar. Padahal ilmu dan praktek marketing terus berkembang, dan bisa jadi diam-diam para junior kita pada rajin mengasah diri mereka…
Merasa dirinya masih junior juga bisa menghambat kreatifitas. Para junior umumnya merasa diri dan lingkup hak/tanggung jawab-nya sangat terbatas, sehingga junior itu takut salah bertindak, gak pede, dsb. Padahal mungkin saja itu perasaannya sendiri, alias si senior gak memberi batasan-batasan itu.
Pada akhirnya, bagaimana bila kita menghormati semua orang baik yang lebih tua maupun yang lebih muda, junior dan senior? Dan bagaimana bila kita tak usah memposisikan diri kita sebagai senior ataupun junior? Posisi sebuah produk di pasar saja tidak akan stabil selamanya, pasti akan selalu ada produk baru hasil inovasi dan invesi (invention) yang berusaha menggoyang posisi produk tsb. Begitu pula manusia, gak selamanya kita jadi junior dan gak selamanya kita jadi senior…
Rombengus
living life and love to the fullest...
Tuesday, March 22, 2005
Ah, anak baru....
Posted by rombengus at 11:00 AM
