Suka denger kisah para OKB (orang kaya baru)?
Iwe baru saja bergabung ke klub OKB setelah dia mendapat pekerjaan sebagai programmer di Jepang. Iwe heboh sekali dengan gaji ‘yen’nya. Sebenarnya sih gaji si Iwe tak terlalu istimewa apalagi bila ditinjau dari biaya hidup yang harus dikeluarkan (biaya hidup di luar negeri kan tinggi banget !). Tapi Iwe sangat heboh dan bergaya hidup ala eksekutif tulen. Dia tinggal di apartemen 3 kamar (meskipun masih bujangan), punya mobil pribadi, sudah melancong keliling Asia di tahun pertama bekerja, punya dapur super komplit dengan 3 mesin pembuat kopi (mesin kopi biasa, mesin espresso dan senseo). Belum lagi gaya bicaranya yang seperti orang gedongan. « Laen oiy Iwe sekarang ! » komentar teman-temannya.
Keluarganya yang di tanah air pun tak kalah heboh. Mereka kerap menyiarkan berita fantastis mengenai Iwe yang berhasil jadi TKI di Jepang (TKI secara definisi bukan cuma pembantu atau buruh, tapi juga para programer, insinyur, akuntan, manajer, peneliti, dan pekerja profesi lainnya yang berpaspor Indonesia dan bekerja di luar negeri).
Lebih lagi, Iwe bukan hanya bergabung di klub OKB, tapi juga klub pegawai baru. Iwe baru saja lulus kuliah dan seumur hidup baru kali ini bekerja. Dia heboh banget jadi karyawan, istilah-istilah kantoran yang terdengar keren pun sering ia gunakan. Iwe bangga dengan kesibukannya di kantor, dan berkata bahwa dia selalu ada ‘meeting’, padahal sebenarnya belum tentu meeting, bisa jadi workshop atau training (Kata ‘meeting’ memang luas penggunaannya, para tukang ojek yang nongkrong di pangkalan juga bisa bilang bahwa mereka lagi ‘meeting’ bukannya lagi nunggu penumpang).
Para lulusan sarjana (pasca-sarjana) yang baru pertama kali bekerja seperti Iwe ini kerapkali jadi sorotan –baik di kantor maupun di lingkungan- karena prilaku mereka yang cenderung ‘over’. Seorang novelis kondang asal Inggris menjuluki para 'fresh graduate’ yang memasuki dunia kerja ini sebagai ‘Master in blind ambition’.
Bagi para psikolog, Iwe bisa dikatakan positif terkena ‘cinderella syndrome’ dimana hidupnya menjadi indah seketika. Dapat pekerjaan bagus, di luar negeri pula, dan bisa bergaya hidup seperti orang gedongan. Asik banget deh ! Iwe bagaikan mendapat durian matang yang runtuh 2 meter di depannya, lalu ia tinggal memungut dan menyantap durian tsb.
Tetapi, bagaimana bila tiba-tiba Iwe kedapatan durian busuk yang runtuh tepat di atas kepalanya ??? Bagaimana bila tiba-tiba ia dipecat ? Atau ia diusir dari Jepang karena ketahuan dokumennya ilegal ? Siapkah ia bila tiba-tiba kehilangan harta bendanya secara mendadak –seperti saudara kita yang mengalami musibah tsunami di benua Asia? Bila itu terjadi, akankah Iwe meratapi 3 buah mesin kopinya yang hilang diterpa badai ? Menjadi OKB saja Iwe sudah norak dan sombong, bagaimana bila ia miskin mendadak ? Bakal kena depresi akut dia ?
Solusi kecil yang bisa Rombengus tawarkan untuk hal ini adalah dengan ‘gaya hidup fleksibel’…
Alangkah baiknya bila kita bisa hidup sebagai golongan atas dan bisa juga bertahan hidup sebagai golongan menengah ke bawah. Bisa menikmati menginap di hotel super mewah di jantung kota Paris yang kalo kita buka jendela kamar kita bisa melihat menara Eifel, tapi kita juga bisa rileks saat menginap di sebuah losmen di pojok kota Klaten yang kalo kita buka jendela kita akan melihat evil (hiiii….). Gak malu-maluin saat diajak berlibur oleh seorang teman yang kebetulan keturunan raja Yordania yang kaya banget, dan gak perlu sedih bila kelak kita gak punya baju bagus untuk bisa main ke mal (Ke mal itu gak perlu bawa duit banyak, tapi wajib dandan ala orang kaya… Pergi ke mal pake kaos oblong butut, celana pendek kumal dan sendal jepit seperti yang dilakukan Rombengus hanya akan menambah kerjaan para satpam).
Untuk membantu kita menerapkan gaya hidup fleksibel, kita bisa mulai dengan berpikir bahwa :
1. Gak ada yang 100% permanen di dunia ini, suatu perubahan bisa saja terjadi seketika. Mungkin besok kita ketemu prince/princess charming, lusa patah hati. Minggu depan dapet pekerjaan di Barcelona, bulan depan dipecat.
2. Mensyukuri apa yang telah kita peroleh. Kalo sekarang udah kaya ya bersyukur dan jangan jadi ‘berubah’, tapi kalo sekarang masih miskin juga musti bersyukur sambil terus berusaha.
3. Menyadari bahwa apa yang kita peroleh berasal dari Tuhan (para atheis pasti gak setuju dengan hal ini). Sekarang kita dikasih ‘ABC’ oleh Tuhan, bisa saja besok Tuhan menarik kembali semuanya dan memberi 'DEF’ untuk kita. Khusus untuk hal ini, peran agama (iman) dan penerapannya adalah penting.
Jadi sekarang, siap kan kalo diajak Rombengus keliling Betawi naik ojek ? Gak maloe kan ? Dan bila Rombengus ajak naik Maserati juga gak usah norak yah !
Salam,
Rombengus
living life and love to the fullest...
Thursday, February 03, 2005
Dapat durian atau ketiban durian ?
Posted by rombengus at 12:06 PM
