living life and love to the fullest...

Thursday, February 03, 2005

Berburu bule ganteng di Aceh !

Baru saja Juleha mengabari Rombengus bahwa ia akan pergi ke Aceh, sembari menjadi relawan juga berburu bule !!! Cihuy gak sih, ibaratnya sekali merengkuh dayung 2 pulau terlewati ! Saat ini memang banyak relawan asing di Aceh (kalo belom pada disuruh pulang oleh pemerintah kita). Sukur-sukur Juleha bisa dapat dokter bule nan rupawan, « … dapet pekerja sosial bule yang seksi juga gak papa deh ! » ungkapnya penuh semangat.

Entah mengapa Juleha demikian antusias mendapatkan kekasih bule. Apakah ia sekedar ingin bersaing dengan temannya yang lain yang memiliki pasangan/suami/istri bule, atau karena ia mendengar asumsi-asumsi bahwa bule itu lebih manusiawi, romantis, cakep dan ‘anu’nya besar (ehem…)

Aneka asumsi mengenai bule memang telah ada sejak dulu di masyarakat kita dan mayoritas dari asumsi tersebut sifatnya positif, sehingga tak heran masyarakat kita memandang bule itu hebat. Hal ini dimungkinkan karena bule itu identik dengan orang-orang dari negara maju yang jadi acuan perkembangan bangsa, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Segala trend mulai dari teknologi, hiburan, mode, dan lainnya dominan berasal dari negeri si bule…

Perlakuan kita yang mengistimewakan bule ini seringkali berbeda dengan perlakuan kita terhadap ras lain, misalnya terhadap ras berkulit kuning dan bermata sipit, Cina...

Meski demikian, Indonesia kini telah ‘membuka pintu’ lebar-lebar untuk etnis Cina dengan masuknya aneka film Hongkong dan Taiwan dan juga beredarnya musik Mandarin di Indonesia. Belum lagi barang-barang asal Cina yang kini seperti gurita raksasa memasuki pasar kita, mulai dari pakaian, mainan anak-anak, barang elektronik rumahan sampai kursi gigi (kursi untuk dokter gigi bekerja) !

Dan orang-orang Indonesia keturunan Cina (Cina-Indo) pun mulai diakui di negeri ini dengan berhasilnya mereka jadi selebriti lokal, penyanyi lokal, pekerja kantoran, pimpinan perusahaan bahkan pejabat.

Meski telah ‘membuka pintu’ untuk mereka, ternyata masih ada sebagian dari masyarakat kita yang antipati dengan etnis ini dan kurang bisa mentolerir keberadaan mereka. Alasannya beragam, diantaranya karena faktor status ekonomi dimana etnis Cina-Indo umumnya memiliki penghidupan yang layak dibanding rata-rata penduduk kita. Dan juga karena kebiasaan etnis Cina-Indo yang selalu hidup berkelompok dengan sesama etnis mereka sendiri, alias gak mau berbaur dengan masyarakat Indonesia secara luas.

Untuk hal yang terakhir ini, sepertinya kita harus bisa memaklumi bahwa etnis Cina dimanapun berada – entah di Amerika atau di Eropa atau di Australia atau dimanapun - pasti akan berkumpul dan membentuk kelompok mereka sendiri. Hal inilah yang membuat adanya China Town (perkampungan Cina) di berbagai kota di dunia.

Lepas dari aneka alasan yang membuat masyarakat kita masih sulit untuk berempati dengan etnis Cina, pada prinsipnya kita tak harus menyukai semua yang ada di bumi ini. Kita berhak kog untuk merasa tidak/kurang suka... Seperti Rombengus yang gak suka sinetron lokal atau anda yang gak suka dengan tulisan-tulisannya Rombengus. Sah-sah aja untuk merasa gak suka…

Dan sangatlah wajar bila kita kurang suka dengan seseorang atau etnis tertentu. Tetapi –yang terpenting- jangan sampai kita menyakiti orang/etnis yang gak disukai itu. Junjung tinggi hak asasi manusia (HAM) ! Meskipun kita gak suka dengan mereka, mereka manusia juga kan ? Mereka punya hak-hak dasar (hak asasi) yang sama dengan kita di atas bumi ini. Bila ada yang gak suka dengan Rombengus karena dia seorang Batak, gak pa-pa, tapi jangan lindas hak asasi Rombengus.

Perihal suka-gak suka ini belum tentu berkaitan dengan rasisme. Misalnya seperti Juleha yang tak mau memacari pria Cina-Indo karena gak suka dengan mereka, « ‘Liever niet’ alias ‘prefer not’ alias mendingan enggak deh… » kata Juleha. Perasaan dan pikiran ‘prefer not’ ini sulit membuahkan rasa cinta bagi Juleha dan cinta gak bisa dipaksakan. Bila dari awalnya Juleha kagak suka dengan pria Cina-Indo, biar dipaksa pacaran, pasti tak ada cinta dalam hubungan itu. Kesian kan pacaran tanpa cinta ? Jadi Juleha tak bisa disalahkan bila ogah pacaran dengan pria Cina-Indo dan sikap Juleha ini ‘tidak’ menandakan bahwa ia seorang yang rasisme. Rasisme berbeda konteksnya disini karena Juleha mau berteman dengan Cina-Indo, ia mempunyai banyak teman dan sahabat dari etnis Cina.

Sebagai penutup, pada dasarnya gak ada salahnya lho berteman dengan semua orang. Suka atau gak suka, temenin aja… Hidup kan isinya gak cuman ketawa-ketawa melulu, dan temenan pun jangan cuman sama yang kita anggap asik aja. Secara imajinatif pertemanan itu ada jenjangnya, mulai dari sahabat karib sampai temen biasa. Dan bila kita memang kurang suka dengan seseorang, taruh saja dia ke posisi ‘teman biasa sekali’ tanpa perlu dimusuhin atau dijauhin atau di-antipati-in. Beres kan ?

Selamat menyambut tahun baru imlek buat yang -masih- merayakan. Dan untuk Juleha, met berburu bule ya, tips-tips menaklukan bule dapat diperoleh secara gratis dari Rombengus…

Salam damai !
Rombengus

d