Di sebuah restoran mungil dalam sebuah hotel di selatan Jakarta, Odie, seorang gadis Sasak sedang duduk di pojok ruangan. Di depannya ada segelas susu kocok (milkshake), tapi dia sendiri asik dengan pulpen dan kertas kumalnya. Odie asik menulis apa yang dilihatnya dan segala yang ada di benaknya.
Seorang pemuda datang, duduk di meja sebelah, memesan kopi lalu membaca koran. Tak lama kemudian, tanpa diminta pria tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Thomas. Dan ia langsung ‘mengumumkan’ bahwa dia adalah seorang doktor (lulusan S3) dari UI yang kini bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan finansial di Jakarta.
Odie yang merupakan seorang ahli kedokteran nuklir alumni Jerman yang kini tengah berlibur di Jakarta hanya tersenyum saja menanggapi Thomas. Odie memperkenalkan dirinya sebagai seorang penulis amatir yang bekerja di sebuah majalah elektronik bernama ‘takkan pernah populer’ di dunia maya.
~~~
Kisah semacam ini lumrah terjadi di Indonesia. Bukan soal mengajak berkenalan tetapi perihal membanggakan pendidikan formal yang telah diraih. Sebenernya sih boleh-boleh saja berbangga, namun gak perlu berlebihan apalagi norak…
Pada kenyataannya pendidikan formal dari SD, SMP, SMU, D1, D2, D3, sarjana (S1) dan pasca sarjana (S2 dan S3) adalah hal penting bagi masyarakat kita. Ada berbagai opini yang mendukung pernyataan tersebut, salah satunya adalah karena jumlah penduduk Indonesia yang kini lebih dari 200 juta orang dimana setiap individu perlu bersaing dengan invidividu lainnya untuk bertahan hidup. Gelar akademis adalah salah satu cara untuk memenangkan persaingan tersebut. Konon, semakin banyak gelar seseorang, semakin mudah memperoleh pekerjaan…
Tetapi, beberapa senior eksekutif dari perusahaan multinasional di Jakarta yang ditemui Rombengus kurang mendukung opini tersebut. Untuk bekerja di industri (bukan karir di dunia akademis maksudnya) pada prinsipnya S1 saja sudah cukup « …Pendidikan sarjana ditambah pengalaman adalah modal utama untuk bekerja di industri. Kalau bisa sampai master / magister ya bagus, tapi tak diperlukan secara mutlak… » begitu komentar mereka.
Alasan kedua mengapa masyarakat kita begitu tergila-gila dengan gelar akademis adalah untuk gengsi pribadi dan keluarga. Katanya, semakin banyak jumlah gelar akademis yang dimiliki, semakin meningkat harga dirinya dan keluarga. Apakah benar ?
Lepas dari benar-tidaknya, demi gengsi inilah yang membuat beberapa tahun silam para pejabat sipil dan militer kita gemar ‘membeli’ gelar akademis untuk dicantumkan di namanya. Semakin banyak gelar tercantum di namanya, semakin hebatlah pejabat kita itu… Di lain cerita, pejabat di negara maju malah melakukan hal sebaliknya. Bill Clinton tak mengumbar titel akademisnya saat menjabat sebagai Presiden AS. PM Belgia tidak pernah mencantumkan titel ‘Licenciate’ (setara magister) di kartu namanya maupun di pemberitaan pers.
Selain itu, ada opini bahwa orang bergelar S3 pastilah luar biasa cerdas dan amat sangat lebih hebat daripada yang bertitel S1, apakah benar ?
Mari kita bahas perbedaan antara S1, S2 dan S3.
Sarjana (S1) itu diibaratkan kuliahnya mempelajari kota DKI Jakarta secara umum mencangkup Tanjung Priok, Cipinang, Menteng, Kebon Jeruk, Cilandak, dan lainnya. Mahasiswa S1 mempelajari semua area di Jakarta secara umum, tidak mendetil.
Sementara di program pasca-sarjana S2, para mahasiswa diharapkan bisa me-master-i sebuah area dari kota Jakarta tersebut, misalnya me-master-i kecamatan Menteng. Dengan menjadi Master Menteng, lulusan S2 tersebut dianggap ahli mengenai Menteng. Prinsip master disini tak beda dengan di film kungfu, master kungfu itu orang yang kungfunya jago banget.
Sedangkan program doktoral (S3), kegiatan dominannya adalah meneliti dan lulusannya diharapkan menjadi ahli di sebuah lingkup yang sangat spesifik, misalnya: kamar si Ujang di Jalan Lombok nomor ABC di kecamatan Menteng.
Penyandang gelar S3 akan sangat ahli bila diajak berdiskusi tentang kamarnya si Ujang. Dia menguasai tentang letak meja belajarnya Ujang, model tempat tidurnya Ujang, warna kamarnya, dst. Tetapi bila si S3 itu diajak berdiskusi mengenai pungli-pungli di Tanjung Priok, dia belum tentu lebih ahli daripada si S1. Si penyandang gelar S3 itu pun belum tentu pakarnya bila diajak membahas mengenai para preman di UKI Cawang. Dalam hal ‘bercinta’ misalnya, bisa jadi pengetahuan anak SMU lebih tinggi daripada para sarjana dan pasca-sarjana tersebut.
Jadi, gak perlu sombong lah bila anda menyandang aneka titel akademis. Boleh bangga, tapi gak perlu jadi norak apalagi tinggi hati... Anda hanyalah seorang Master / kandidat Doktor / Doktor di sebidang ilmu. Dan pengetahuan yang anda miliki masih sangat amat terbatas. Lagipula, masih banyak orang lain yang jauh lebih hebat dari anda. Ingat, di atas langit masih ada langit... Dan jadilah seperti padi yang makin berisi makin merunduk…
Di sisi lain, masyarakat kita tak perlu terlalu terpesona dengan titel akademis yang dimiliki seseorang, respek perlu, tapi gak usahlah menyanjung-nyanjung seseorang karena titel akademisnya. Mereka bukan dewa kog…
Buktinya masih banyak kandidat doktor / doktor yang kurang bagus karakternya. Ada kandidat doktor yang cara bicaranya sehari-hari masih seperti tukang becak dan suka menghina serta menghujat orang lain. Ada doktor yang meskipun memperoleh gelar doktornya dari luar negeri tetapi pikirannya masih sangat sempit. Di lain pihak, ada banyak orang tanpa titel akademis yang berarti tetapi memiliki karakter yang baik…
Selain itu, kita tak perlu terpaku pada pendidikan formal untuk belajar dan menambah pengalaman hidup. Kita bisa belajar secara informal yang bisa diperoleh / dilakukan sehari-hari dan gratis. Mulailah mengamati hal-hal yang ada di sekitar kita. Mungkin hal tersebut kesannya kecil dan sepele, tapi siapa tau kita bisa belajar dan menambah pengalaman hidup dari sana ?
Salam pendidikan dan gelar-gelarnya !
DR. ing. arch. Rombengus, MKIM, M.Eng., FCPI, Dipl. UP, Licenciate, DESS, DEA, PhD
Catatan :
Odie itu nama anjing temen berantemnya Garfield di film Garfield dan Thomas itu nama lengkapnya si kucing Tom di Tom and Jerry.
living life and love to the fullest...
Friday, December 10, 2004
Eh, gue nih doktor lho!
Posted by rombengus at 7:15 PM
