living life and love to the fullest...

Friday, December 10, 2004

Bincang-bincang dengan Nive, si juragan montok...

Yuk kenalan dengan Nive, gadis Jawa bermental Batak (galakkan dia dari gue !)
Nive ini juragan permen populer bermerk ‘montok’. Merk ini tidak mencerminkan juragannya lho, tapi bentuk permennya. Sebagai juragan permen, Nive memiliki ‘status sosial’ yang cukup aduhai (status sosial kan penting banget bagi masyarakat kita). Tapi jangan tanya gajinya, beli DVD bajakan yang cuma 5 ribu perak per film aja ngutang sama Rombengus ! Gaji minim atau memang pelit atau kesempatan biar dibayarin Rombengus ? Hehehe…

Bulan kemarin Nive sibuk bikin iklan untuk memasarkan permennya. Bila Rizal Mantovani doyan memakai bocah-bocah botak di aneka video klip kreasinya, Nive pake cewe-cewe botak ala Sinead O’ Connor di iklannya.

Perempuan berambut botak memang sensasi di Indonesia. Jaman dulu, perempuan berambut pendek aja udah bikin satu kampung ribut. Tapi sekarang udah lumrah kog melihat perempuan berambut pendek. Meski demikian, masih banyak ‘pantangan’ bagi perempuan Indonesia, seperti gak boleh pulang malam. Perempuan yang pulang malam sering dibilang perempuan gak bener. Padahal, kalo kebetulan dapet shift (tugas jaga) pada malam hari gimana ? Dan bila emang musti lembur di kantor ? Apakah adil bila setiap perempuan yang pulang malam langsung dicap perempuan gak bener ?

Bukan cuman urusan pulang malam, masih banyak lagi pantangan yang sifatnya konservatif bagi wanita Indonesia. Pantangan-pantangan itu dibuat masyarakat dan katanya merupakan budaya kita. Sebenernya sih ada pantangan-pantangan yang tak lagi sesuai di zaman sekarang ini, dan budaya juga berubah seiring dengan perubahan zaman. Bila kita tetap terpaku dengan keadaan yang lama, kita adalah manusia konservatif…

Nive juga mengakui kegeliannya dengan lagu ‘pejantan tangguh’ karya grup band lokal Sheila on 7. Nive begitu heran mengapa pria selalu ‘mengambil image’ dari sifat hewan jantan seperti: tangguh, kuat, berani, perkasa, gagah, jantan, dsb. Sementara wanita justru ‘memberi image’ ke hewan betina. Tokoh miss Piggy yang kemayu dan sapi betina di film Home on the range jelas-jelas mengutip ke-feminin-an manusia perempuan.

« Eh, Sheila on 7, elo tuh mau-mauan disebut pejantan, mau-mauan disamain dengan hewan… Perempuan mana mau disebut betina. Pasti para perempuan pada teriak: Betina mah hewan atuh ! » ungkap Nive. Bagi Rombengus sih, para pria itu kurang kreatif sampai-sampai image diri aja musti niru hewan…

Nive juga menceritakan kekagumannya pada mas Sino (bukan nama sesungguhnya), si banci tukang salon langganannya. Meskipun seorang banci -yang keberadaannya sering belum bisa diterima masyarakat kita- Sino adalah aktivis senior di sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) terkemuka yang memperjuangkan hak-hak wanita. Sino –meskipun secara biologis adalah seorang pria- rajin menyuarakan dan memikirkan masalah wanita di negara dunia ketiga khususnya Indonesia.

Mengesankan bukan nasib perempuan Indonesia diperjuangkan oleh seorang banci ?!

Bersama Nive kami juga membincangkan hal-hal yang lebih serius, seperti ketidaknyamanan kendaraan umum di Jakarta khususnya bagi perempuan, kasus TKW, dan lainnya. Dan di akhir pertemuan, Nive mengungkapkan kesedihannya karena masih ada saja perempuan yang merendahkan martabatnya sendiri. Masih ada perempuan yang melacurkan diri mereka demi materi. Malah ada pula yang bangga dengan karir seksnya itu…

Hmm… hal melacur ini memang hal kompleks. Melacur adalah pekerjaan tertua di dunia, dan rasanya mustahil untuk bisa dilenyapkan dari muka bumi. Melacur di Indonesia sendiri bukan hal baru, sejak jaman raja-raja dulu pun telah ada di budaya kita. Tapi, tahukah anda bahwa geisha pertama di Jepang adalah seorang pria ?

Bincang-bincang dengan Nive ini menyadarkan Rombengus bahwa ternyata wanita pekerja yang karirnya demikian baik masih memikirkan nasib sesama perempuan. Hanya saja tak ada –atau tak tahu- wadah yang tepat untuk menyampaikan aspirasi mereka. Barangkali kementrian pemberdayaan wanita di pemerintahan yang baru bisa menjembatani aspirasi mereka ?

Tapi mungkin kesibukan para wanita pekerja ini tak mendukung mereka untuk terlibat jauh dalam hal meningkatkan pemberdayaan perempuan Indonesia. Namun keterlibatan yang sedikit saja terhadap memajukan dunia perempuan di Indonesia sudah merupakan hal indah yang bisa dilakukan…

Maju terus perempuan Indonesia !
Rombengus yang kemayu (hé ?)


Catatan :
Ditulis untuk RSW juragan mentos di Indonesia, serta perempuan Indonesia lainnya…

d