living life and love to the fullest...

Tuesday, September 21, 2004

Srikandi mencari cinta

Tau lagu ‘Arjuna mencari cinta’-nya Dewa yang sempat ngetop beberapa tahun yang lalu ? Judul lagu tsb sempat jadi konflik karena kebetulan ada sinetron yang judulnya sama. Bagi saya pribadi sih, saya tak memusingkan soal kesamaan judul itu, tapi yang saya sempat kaget karena Dewa berani mengklaim diri mereka sebagai Arjuna… Tau Arjuna yang tokoh pewayangan itu kan ?

Apa grup band Dewa benar² para Arjuna ? Di lirik lagunya, berkali² dikatakan « Akulah Arjuna…. » atau hanya karena mereka berjenis kelamin laki² dan merasa dirinya segagah Arjuna ?

Jenuh dengan kisah Cinderella dan karena tak mau kalah dengan kisah cinta para Arjuna Dewa yang sibuk mencari cinta, ternyata Srikandi juga panik mencari cinta… Apalagi karena usianya sudah hampir 30 dimana orang tua sudah ribut mengingatkan Srikandi untuk berkeluarga. Lagipula dunia semakin kacau, sehingga Srikandi merasa tak betah hidup sendirian.

Tetapi Srikandi yang sibuk berperang –seperti di kisah pewayangannya- dia tidak sempat bermimpi dan berteriak² « Akulah Arjuna yang mencari cinta !! Cintailah aku !! » seperti si Arjuna Dewa. Srikandi ini seorang yang pintar, perencana (planner) yang handal, dan realistis (istilah londo-nya : down to earth).

Suatu hari si Srikandi menemukan pujaan hatinya, yang luar dalam-nya sesuai dengan harapan hati. Klop dah ! Berkat proses pendekatan yang cukup singkat, Srikandi pun berhasil membuat janji kencan dengan sang pujaan hati...

Sama seperti para wanita yang hendak pergi kencan di novel populer dan film² cinta ala Hollywood (bukan Bollywood, Srikandi gak suka nonton film Bollywood), Srikandi pun menyiapkan kencannya itu dengan sangat spesial. Mulai dari persiapan fisik, seperti luluran, mandi susu, mandi anggur, mandi bir,... Tidak lupa ia menyiapkan kostum terindah, tetapi karena Srikandi tidak punya busana karya Ghea Sukarya (Ghea Panggabean), baju ala Blok M pun dikenakannya. Ia pun berdandan secantik²nya, tetapi karena kemahalan untuk sanggulan di Martha Tilaar (kencannya pake sanggul?) dia pun minta tolong mas² banci tetangga di kos²annya untuk mendandaninya.

Sebagai perencana yang handal, Srikandi sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari apa yang harus diucapkan saat bertemu, sampai dengan apa yang harus dilakukan/diucapkan saat di’tembak’. Ternyata di negeri antah berantah tempat Srikandi bermukim juga masih ada sistem tembak-menembak seperti di kampoeng Betawi...

Saat yang dinanti pun tiba... Srikandi panik, gugup, mencoba mengatur nafas dan tenangkan pikiran. Teman²nya pun menasehati « Nyantai aja lagi loe… Pasti sukses dah ! Tapi elo jangan galak², cowo sukanya cewe yang lembut. Trus jangan tunjukin segala kepintaran elo, cowo kagak suka kalo cewe-nya lebih pintar dari dirinya. Pura² bego aja jek ! Jangan tunjukin pula semua prinsip² elo, pokoknya jangan tunjukin diri elo sbg cewe yg kuat deh, sebab cowo sukanya dia yg berprinsip n cewenya yg nurut² aje… »

Srikandi pun berangkat ke tempat janji kencan. Srikandi tak dijemput sang pujaan hati, karena pujaan hatinya seorang tukang insinyur Teknik Industri yang sangat perhitungan terhadap segala hal. Dengan perhitungan yang diperoleh dari Dijkstra method, bila harus menjemput Srikandi, berarti ongkos transport akan dobel dibandingkan sama² berangkat dan ketemu di tempat tujuan.

Sampai di tempat tujuan, Srikandi pun celingukan mencari sang pujaan hati. Sesungguhnya dia ragu akan tempat kencan itu, sebab lokasinya kog di area lampu merah (red light district = area prostitusi). Srikandi tidak punya handphone, -meski teman²nya berganti handphone tiap bulan- jadi dia tak bisa hubungin sang pujaan hati. Lalu Srikandi pun hanya berjalan mutar² di area ‘menantang’ itu, berharap bertemu sang pujaan hati di sana.

Tetapi sang pujaan tak juga tampak batang hidungnya (istilah ini kerap kali dipakai di novel dan cerpen² Indonesia). Dan Srikandi pun pulang dengan hati berduka… Segala rencana di benak, aneka persiapan yang telah dilalui, semuanya tak membuahkan hasil…

Beberapa hari telah berlalu, barulah Srikandi tau bahwa dia salah menulis alamat tempat kencan….


C’est la vie
On rêve autrement
On croit qu’on est différent
Qu’aux angles des jours il y’a des tournants
C’est la vie
(C’est la vie, dinyanyikan oleh Cristina Marocco )


Amitiés de /rombengus (250504)


Catatan:
1. Sesuatu yang telah terencana dengan rapi oleh seorang ahli perencana, bisa gagal juga...
2. Kadang kita terlalu fokus/berpikiran ke hal² besar yang nun jauh di sana, dan kita melupakan hal² kecil yang sebenernya penting
3. Ini kisah fiktif, terinspirasi oleh lagu Arjuna mencari cinta-nya Dewa dan lagu C’est la vie (Le rendez-vous des maladresses)-nya Cristina Marocco dan ditulis sambil makan spageti yg dimasak ala mie ayam (=spageti ayam?)

d