living life and love to the fullest...

Tuesday, September 21, 2004

Dalam sekejab…

Waktu tinggal di Belanda dulu salah satu hobi saya adalah menata kamar. Dulu biasanya saya mengecat kamar 2x setahun alias setiap kelar ujian. Sebagai penghilang stress. Pernah pula sahabat tercinta saya Monique yang jago interior dan finance membantu saya menata kamar yang kemudian hasilnya tampak seperti museum dengan warna orange mexico plus biru skandinavia. Antik euy!

Saat mendekor kamar itu, saya suka kesal bila salah meletakkan posisi tempat tidur, lemari, meja, dsb.; sebab saya musti geser lagi semuanya yg berat². Kemudian saya berpikir, seandainya keadaan itu bisa seperti di komputer dengan sistem Windows-nya yang bila kita salah tinggal klik ‘undo’ atau ‘Ctrl+z’, dan kita pun akan kembali ke keadaan sebelumnya dalam sekejab. Instant and easy!

Ternyata budaya berpikir instant itu bukan cuman ada di otak saya saja. Sejalan dengan perkembangan teknologi, orang memang pinginnya yang serba instant, seperti makanan (kopi, mie, dsb), bank (internet banking, debit dan credit card, dsb), mendaftar sekolah dan melamar kerja via internet, belanja via internet (eCommerce), belajar dengan media elektronik (eLearning), dan banyak lagi. Mau tidak mau memang teknologi semakin lengket dengan kehidupan manusia…

Saya sih tidak ada masalah serius dengan hal tsb, hanya saja saya perhatikan kemajuan teknologi ini mempunyai efek yang besar pada masyarakat dari negara berkembang.

Seperti misalnya saat bikin penelitian di kampus, banyak teman² dari negara berkembang yang maksa minta topik dari program koordinator -dengan mendatangi si coordinator itu setiap hari-, bukannya mencari topik sendiri. Padahal kan yang mau meneliti itu si anak tersebut, bukan si koordinator. Dan apa salahnya luangkan waktu beberapa hari bergelut sendiri dengan internet dan buku untuk mencari topik?

Kemudian saya perhatikan teman² dari negara berkembang itu juga mudah sekali bertanya. Tidak tahu tentang hal A langsung tanya ke dosen/profesor tanpa berusaha berpikir dan mencoba memecahkan masalahnya sendiri terlebih dulu.

Contoh lainnya, saya baca di sebuah forum anak² muda Indonesia di internet, dimana sekarang ini pria Indonesia cenderung suka cewe yang agresif mengejar. Mereka tidak mau lagi bercapai² ria mengejar cinta/cewe dan gak mau lagi spend waktu lama² untuk pdkt. « Udah gak jamannya… », kata mereka.

Hal lainnya mengenai anak² yang mencari informasi di milis beasiswa di yahoogroups. Sebenarnya milis itu sudah mempunyai arsip yang memadai, tetapi herannya banyak sekali anak yang tidak mau aktif mencari informasi di arsip milis ataupun browse informasi via internet, melainkan langsung post message pertanyaan. Dan hasilnya banyak sekali pertanyaan² yang mirip diulang² di milis tsb.

Secara teoretikal, perkembangan teknologi di negara berkembang itu luar biasa pesat dan efek ke masyarakatnya pun lebih dalam dibandingkan dengan di negara maju. Gambaran kasarnya, teknologi di negara berkembang itu tadinya nilainya 2 trus sekarang jadi 6, sementara di negara maju tadinya 5 dan sekarang jadi 7. Semakin besar selisih perbedaan tersebut menyebabkan semakin besar pula perubahan yang terjadi di masyarakat. Technology shock istilahnya. Dan beberapa efek negatif dari teknologi itu membuat masyarakat semakin malas, tidak aktif dan pinginnya memperoleh sesuatu dalam sekejab…

Saya berharap teman² tidak terkena efek negatif dari technology shock tadi, sebaliknya, alangkah baiknya bila pola pikir kita diubah menjadi si innovator dan bukan lagi sebagai si konsumen (biasanya yang kena dampak itu konsumen). Maksudnya begini, bila kita melihat suatu hal, coba pikirkan inovasi dari apa yang sudah ada. Misalnya, saat ini harga buku di Indonesia lebih mahal daripada harga VCD/DVD bajakan sehingga orang² lebih suka menonton film² Hollywood ataupun mandarin daripada membaca. Nah, pikiran inovatif itu salah satunya adalah memikirkan bagaimana membuat buku menjadi lebih menarik dan lebih terjangkau, untuk membangkitkan gairah membaca di masyarakat kita. Mengenai pelaksanaannya, itu hal kedua, karena inovasi diawali dari sebuah ide… Dan membiasakan diri berpikir membuat diri kita aktif, tidak malas dan tidak sekedar jadi konsumen teknologi saja…

Maju terus anak Indonesia!

/rombengus_ gent191203&100204

d