Sekitar 30 meter dari tempat kos saya, ada sebuah supermarket. Para mbak kasir di supermarket itu (biasanya kasir di supermarket di sini adalah para student) sudah pada tau saya. Kadang mereka ramah, tapi seringkali kurang ramah (agak ketus maksudnya), mungkin karena kartu debit saya yang suka macet ataupun karena saya selalu belanja makanan yang termurah ?
Beberapa bulan yang lalu saat saya bayar di kasir, saya pun mendapat perlakuan yang kurang ramah oleh seorang mbak kasir. Tampangnya cemberut dan ketus pula. Kebetulan saat itu tak ada yang mengantri di belakang saya, dan saya pun menegur mbak kasir itu. Tetapi saya tidak memarahi dia, malah saya ajak ngobrol: « Mbak, baik² aja kan? » Si mbak kasir kaget dan menjawab « Ya… » Lalu saya tanya lagi « Kenapa mbak tidak tersenyum ? Apakah mbak mendapatkan hari yang buruk ? » Tau² si mbak itu mengeluarkan senyumnya yang terindah « Saya baik² aja kog, cuman agak cape… bla bla bla… » terusnya kita malah ngobrol…
Setelah kejadian itu, saya pun ngetop di supermarket yang mini itu J. Tapi sesudahnya saya jarang datang ke sana, sebab itu termasuk supermarket mahal. Paling kalo mepet aja saya ke sana, atau sekedar beli susu, yoghurt dan roti yang harganya standar.
~~~~~
Kebanyakan orang terlalu sibuk mengejar impiannya masing². Ada yang sibuk kerja, ada yang sibuk belajar, sibuk berduaan dengan pasangannya saja, sibuk bermimpi, dsb. Saya –sebagai manusia- juga termasuk dalam bagian ini. Saya suka nongkrong di kamar berhari² baca buku dan main musik, gak ketemu orang sama sekali. Bukannya baca buku dan main musik itu jelek, tapi sikap individualism yang berlebihan itu tidak baik.
Selain itu, bila kita bertemu orang di jalan/kampus/kantor pun belum tentu kita perduli dengan apa yang terjadi dengan orang tsb. Misalnya ada gadis Afrika atau Papua yang sedang menangis seorang diri di halte, apakah kita akan menegurnya? Bisa jadi karena dia hitam dan tak kita kenal, kita pun tidak memperdulikannya.
Bila proyeksinya diperdekat, tak usah gadis Afrika/Papua yang tak kita kenal, teman sendiri pun belum tentu kita perduli dengan keadaannya. Bahkan terhadap saudara sendiri pun… Suka nonton film silat klasik asal China? Di film silat itu seringkali ada kisah sesama kakak-beradik saling bunuh demi sebuah ambisi (untuk jadi raja misalnya). Well, orang China memang terkenal dengan ambisinya. Mempunyai ambisi itu sangat bagus, namun dalam batasan yang positif.
Perduli dengan sesama yang bahasa kerennya bersimpati –ada juga yang menyebutnya empati- adalah hal mutlak yang wajib dilakukan oleh setiap manusia. Kenapa ? Karena kita hidup dengan manusia lain dan kita wajib mengasihi manusia lain.
Simpati itu bukan sekedar memberikan nasehat ataupun menawarkan pertolongan yang cepat dan sifatnya sementara (cosmetic help), tetapi dengan bersimpati berarti kita masuk dan berbagi penderitaan dengan orang tsb. Ada 2 hal penting yang harus dilakukan dalam bersimpati: mengerti perasaan orang yang menderita (understand) dan juga membangun hubungan dengan orang tsb (share).
Ada sebagian dari kita yang sangat sulit bersimpati dengan orang lain. Hal ini umumnya disebabkan oleh dua hal: Pertama, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan/kuliah/aktivitas lainnya sehingga tidak ada waktu untuk melihat sekitar (time). Kedua, karena terlalu fokus pada penderitaan dirinya sendiri (self-pity).
Mungkin ada pemikiran: ngapain gue ngurusin orang di jalanan kalo diri gue sendiri aja belon bener? Ada pula argumen: Gue belon dapet pekerjaan, gue ditolak kuliah di MIT, lalu ngapain gue ngurusin orang lain? Selain itu, Vanessa Paradis (penyanyi pop-jazzy asal Prancis yang juga istrinya Johny Depp) menulis lirik di salah satu lagunya yang berjudul La la la song dimana bagian refrainnya berbunyi « The principle of love is that, when you get enough, then you can give it back ». Saya kecewa saat dengar lagu tsb, lagunya enak sekali tetapi refrainnya memprihatinkanL. Memberi kog ‘musti nunggu’ sampe kebutuhan diri tercukupi??? Argumen² seperti ini merupakan kendala kedua bagi kita untuk bersimpati kepada orang lain (self-pity).
Untuk bersimpati kepada orang lain, jangan perdulikan keadaan diri sendiri. Mungkin kita lagi bangkrut, lagi sedih, lagi kecewa; tetapi kita tetap harus perdulikan sesama. Dengan bersimpati pada orang lain, beban kita bisa berkurang… karena secara mentalitas kita akan merasa lebih kuat (saya sering mengalami hal ini).
Kemudian, mungkin kita pun lagi rush saat ini, sibuk mengejar deadline, repot ngurusin keluarga, panik dengan ujian/tugas kuliah, tetapi apakah makan waktu untuk sekedar kirim 1-2 kalimat via imel/sms ke teman sekedar menanyakan kabarnya? Perlu waktu berapa detik sih untuk mengucapkan « Selamat pagi » saat ketemu orang di lift?
Love, peace and harmony,
/rombengus 060304
living life and love to the fullest...
Tuesday, September 21, 2004
Sentuhan kemanusiaan…
Posted by rombengus at 10:57 PM
