living life and love to the fullest...

Tuesday, September 21, 2004

Perkataan yang indah…

Kisah seorang mahasiswa doktoral (sebut saja si XYZ) di sebuah universitas ternama. Meski dari segi akademis ilmu orang tsb tinggi, tetapi pengetahuan bicaranya tidaklah setinggi pengetahuan akademisnya. Well, dia memang terkenal suka bicara seenak perutnya, blak-blakan, tanpa melihat siapa lawan bicaranya dan tidak mempertimbangkan waktu bicaranya.

Dia pernah bicara seenak perutnya kepada seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang belum lama dikenalnya. Inti pembicaraannya adalah menghina fisik anak tsb, yang kemudian membuat anak itu menangis dan sakit hati…

Dia pun pernah bicara blak-blakan mengkritisi panitia sebuah acara festival di hari H-2, tanpa mempertimbangkan efek psikologis dan emosional kepada para panitia tsb. Kritik kan lebih baik dilontarkan sesudah acara, bukan di hari H-2 dimana semua panitia sedang stres²nya. Well, mungkin dia memang buta soal psikologi manusia…

Saya tau bagi sebagian orang perkara si XYZ dan mulutnya ini adalah hal yang biasa. Paling kalian berpikir « Udah, dimaklumin aja… si XYZ kan emang orangnya gitu… emang cara bicaranya kasar…» mungkin ada pula yang berkomentar « Itu pan omongan dia doang yang kasar, belon tentu hatinya kasar …»

Hmmm… bisa jadi sih… Dan memaklumi seseorang memang kewajiban dalam pergaulan…

Tetapi ada hal lain yang perlu kita pertimbangkan….

Ada sebuah novel British berjudul If nobody speaks of remarkable things karya Jon McGregor. Inti novel tersebut adalah tentang seorang wanita yang tengah mengandung dan menanti²kan ucapan yang indah dari orang tuanya dan orang² di sekitarnya terhadap kandungannya itu. Tetapi sampai di akhir novel, hanya seorang pemuda yang pernah mengucapkan perkataan indah untuknya… yang lain gak ada… Bisa dibayangkan bagaimana perasaan wanita tsb?

Bagaimana bila tidak ada lagi kalimat indah dan mendukung di dunia?

Saat anda lulus atau mendapat promosi jabatan, tidak ada yang memuji keberhasilan anda. Saat anda sakit atau bermasalah, tidak ada kalimat support dari teman dan keluarga anda. Saat anda ketakutan dan cemas, orang² hanya memberi tanda baca tanpa kalimat yang bersifat positif….

Di sisi lain, apakah makan waktu atau buang tenaga sekedar untuk melontarkan kalimat yang indah?

Melontarkan kalimat yang indah tidak perlu dilakukan dengan menyanjung seseorang panjang-lebar, tetapi cukup 1-2 kalimat saja. Dan yang utama adalah makna dan sifatnya yang mensupport.

Bicara indah bisa dimulai dari hal kecil, seperti mengucapkan ini ke seorang dosen « Saya senang sekali dengan kuliah anda hari ini, saya mendapat banyak masukan dan saya belajar banyak… ». Tentu saja perkataan itu membuat dosen menjadi gembira dan semangat mengajar. Bisa juga anda ucapkan kalimat seperti ini ke sahabat anda « Makasih ya untuk selalu ngingetin gw supaya tetep realistis. Tanpa elo, gw mungkin masih nyangkut entah dimana… »

Talk pretty, better life…

/rombengus 050404

d