living life and love to the fullest...

Tuesday, September 21, 2004

Siapa sih yang paling pintar disini ?

Pertanyaan di atas beberapa kali diutarakan oleh seorang teman -anak Indonesia- di sini. Dia pernah juga bertanya, « Si Ucok (bukan nama sesungguhnya) itu pinter gak sih ? Si Ucok itu pinternya semana sih ? ». Saya pernah menjawab gini padanya, « Saya gak tau si Ucok itu pinternya semana, tapi Ucok itu anaknya baik… » Tau apa reaksinya ? Teman tsb ketawa ngakak yang seakan² meremehkan anak baik dan memuja anak pintar. Saya sendiri sudah pasti dikategorikan sebagai anak bodoh olehnya, well, whatever lah… Yang jadi pertanyaan di benak saya adalah: apakah pintar adalah segalanya ?

Sejak SMA teman² saya mulai membedakan antara pintar dan cerdas. Anak yang pintar itu adalah anak yang bagus prestasinya di sekolah seperti selalu ranking 1, juara kompetisi anu, dsb. Contohnya anak yang lulus cum laude di bidang menjahit, pintarnya di bidang menjahit saja. Sementara anak yang cerdas lebih dikategorikan sebagai anak yang pola pikirnya bagus dan pengetahuannya pun luas. Dan umumnya anak yang cerdas itu pintar. Tetapi definisi tsb bisa rancu, sebab cerdas pun bisa dibuat². Misalnya si Otong (bukan nama sesungguhnya) yang kebetulan teman²nya cerdas dan dia mendengarkan ocehan teman²nya tsb dan ocehan itu diutarakan ke teman²nya yang lain. Si Otong pun ‘tampak cerdas’ meskipun sesungguhnya dia hanya messenger saja.

Hal lain, sejak bertahun² yang lalu telah diketahui bahwa kecerdasan emosi (EQ) jauh lebih penting daripada kecerdasan intelektual (IQ). Karena itu perusahaan² mengadakan test EQ (seperti psikotes, interview) saat menyaring karyawan. Umumnya mereka ingin karyawan yang stabil dan kepribadiannya bagus, cocok dengan posisi pekerjaan tsb. Ada banyak kasus anak yang IQ-nya tinggi tetapi EQ-nya lemah seperti mantan teman sekantor saya dulu yang pintar luar biasa tetapi selalu terlambat bila datang ke kantor dan susah sekali bekerja dalam tim (padahal teamwork itu penting dalam bekerja). Tidak lama kemudian si pintar ini pun dipecat...

Selain itu, dulu saya pernah ngobrol dengan seorang teman yang sudah lulus S3 menanyakan persyaratan apa saja yang perlu untuk menjadi mahasiswa S3. Menurutnya tidak diperlukan anak yang sangat pintar untuk kuliah S3, tetapi anak yang tekun. Hal ini masuk akal sekali. Bahkan belakangan ini para profesor di Eropa sedang jatuh cinta dengan student asal RRC sebab mereka itu tekun sekali –orang Indonesia masih dicap pemalas...

Kasus lain, ada banyak orang² pintar duduk di Pemerintahan kita. Banyak pula petinggi yang jadi guru besar di Universitas terkenal. Kenyataannya, KKN masih saja merebak di negri kita tercinta... Apalagi tahun ini diadakan Pemilu dan bisakah kita bayangkan berapa persen dari total biaya Pemilu yang larinya entah kemana? Biaya Pemilu yang otomatis uang rakyat itu masuk ke kantong-kantong para pejabat dan panitiaL. Kalo di-rupiah-kan ada berapa miliyar yah? Bisa kasih makan berapa ribu keluarga? Bisa menyekolahkan berapa ribu anak? Dalam hal ini, Indonesia lebih membutuhkan pemimpin yang punya hati nurani daripada pemimpin yang luar biasa pintar...

Good manners will open the way that the best education cannot (Clarence Thomas)

Love, peace n harmony
/rombengus (Gent 04.02.04)

d