Sirsa (sirsak – k) adalah seorang gadis bule yang perawakannya biasa. Banyak orang mengira orang-orang bule itu pastilah cakep karena mereka berhidung mancung, bermata lebar, tinggi dan berkulit putih. Kenyataannya, tidak sedikit orang bule yang perawakannya biasa-biasa saja, bahkan tidak menarik sama sekali.
Sirsa ini seorang karyawan di sebuah bengkel mobil. Dialah satu-satunya petugas administrasi di bengkel tersebut. Meski bekerja di sebuah bengkel, Sirsa dapat hidup dengan sangat layak. Dia memiliki mobil Smart (mobil mungil bermesin Mercedez) keluaran awal tahun 90-an dan dia pun bisa menyicil rumah mungil di pinggiran kota.
Sirsa adalah seorang gadis yang memiliki sedikit kesenangan. Minat dan hobinya hanya ada 4: ngobrol, makan makanan enak, makan makanan enak sambil ngobrol, dan ngobrol sambil nonton TV. Kegemaran utamanya adalah mengobrol…
Tidak ada yang salah dengan kegemarannya itu, tetapi pekerjaan Sirsa tak memungkinkan dirinya untuk sering melakukan kegemarannya. Sebagai karyawan administrasi, sehari-hari Sirsa bekerja di sebuah ruangan kecil, sendirian. Dia tak bisa menyalurkan hobi ngobrolnya selama waktu kerja dari jam 8 hingga jam 6 sore, dari hari Senin sampai Jumat. Di malam hari, Sirsa juga tak bisa mengobrol karena tinggal sendirian di rumah mungilnya. Sirsa pun tak memiliki banyak teman yang bisa diajak ngumpul dan mengobrol di malam hari. Keadaan ini –tak bisa melampiaskan rasa ingin ngobrolnya- membuat Sirsa tersiksa, merasa kesepian yang mendalam… lalu dia pun mulai mengobrol sendirian, terutama di saat makan makanan enak dan menonton TV…
Sirsa memiliki seorang kekasih bernama Durent (duren + t), seorang pria bule yang juga biasa-biasa saja perawakannya. Berbeda dengan Sirsa, Durent memiliki aneka kegemaran dan kemampuan, ‘multi-talented’ bahasa kerennya.
Durent seorang pemusik amatir yang mahir memainkan alat musik saxophone, dia seorang penyair yang suka sekali dengan sastra inggris, dan dia juga pecinta fotografi yang suka membuat foto tempat-tempat sampah dari aneka daerah yang pernah dikunjunginya. Menurut Durent, budaya setempat dapat dipelajari dari tempat sampahnya…
Tak hanya itu, Durent juga gemar akan olah raga, dua sampai tiga kali dalam seminggu dia main tenis, dan dia tak pernah melewatkan satu pertandingan sepak bola di TV. Durent juga tertarik akan hal-hal unik lainnya seperti menonton film Amélie (Le Fabuleux destin d'Amélie Poulain) berulang-ulang, menggambar aneka ekspresi wajah beruang, dan memperhatikan tengkuk wanita… Secara profesional, Durent adalah seorang programmer di sebuah perusahaan piranti lunak (software) lokal.
Sebagai seorang yang mempunyai banyak bakat dan kegemaran, Durent tak pernah merasa kesepian. Meskipun mempunyai segudang teman, Durent malah cenderung ‘asik sendiri’ dan sering malas berinteraksi dengan orang lain. Durent mempunyai dunia-nya sendiri !
Di akhir pekan, seperti pasangan kekasih lainnya yang tinggal di tempat yang berbeda, Durent bertemu dengan Sirsa. kadang Durent yang menginap di rumah mungilnya Sirsa, atau sebaliknya. Biasanya Sirsa sangat antusias menyambut akhir pekan, banyak sekali hal yang ingin diceritakan pada Durent. Sirsa juga menyiapkan aneka makanan enak untuk disantap bersama di akhir pekan.
Di sisi lain, Durent ingin sekali menyalurkan aneka hobi dan bakatnya di akhir pekan. Dia ingin main saxophone sepuas-puasnya, jalan-jalan sembari membuat foto tempat sampah, nongkrong di café sembari memperhatikan tengkuk wanita, dan hal lainnya…
Durent seringkali malas diajak bicara oleh Sirsa. Durent pun ogah naik mobil Smart-nya Sirsa dan memilih naik kendaraan umum karena dia malas bila harus melayani Sirsa ngobrol di dalam mobil, dan lagipula lebih banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari dengan naik kendaraan umum daripada naik mobil pribadi.
Belakangan ini Sirsa menjadi depresi karena kegemarannya tak tersalurkan dengan baik. Sirsa yang hanya bisa menyalurkan ekspresi diri lewat mengobrol (output dirinya hanya dengan bicara/mengobrol) tak bisa disalurkan di hari-hari biasa maupun di akhir pekan. Durent pun tersiksa bila harus melayani obrolan dan makan-makan melulu di akhir pekan saat bersama Sirsa. Durent lebih suka melakukan aneka hobi uniknya daripada mengobrol dan makan-makan… Durent yang punya segudang input dan output, tak mengerti bahwa output Sirsa hanyalah mengobrol…
---
Ada banyak argumen terhadap karakter objek dalam hubungan manusia (hubungan dalam konteks teman, kekasih dan pasangan suami-istri). Ada yang bilang, hubungan orang-orang yang setipe akan lebih enak dan tahan lama. Tetapi argumen ini dihantam dengan pendapat lainnya yang berkata bahwa orang-orang yang setipe malah akan lebih cepat berantem dan berpisah, apalagi bila tak ada yang mau mengalah. “Sesama seniman pasti susah untuk berkeluarga, sama-sama orang gila mana bisa hidup satu atap?” begitu katanya…
Ada pula yang berargumen bahwa berhubungan itu tak perlu setipe karena kelak akan saling mengisi. Kekurangan yang satu akan digenapi oleh kelebihan yang lain. Mungkin seperti Sirsa yang tukang ngobrol akan dapat digenapi dengan Durent yang pendiam. Tapi kenyataannya, hubungan Sirsa dan Durent pun mengalami masalah…
Amanda Filipacchi, seorang novelis beken keturunan Italia yang bermukim di Amerika, menulis dengan indahnya mengenai hal ini di salah satu novelnya berjudul Vapor. Amanda menyatakan secara tidak langsung bahwa hal penting dalam hubungan manusia adalah fleksibilitas…
Seringkali kita susah untuk berinteraksi dengan orang lain, mungkin dalam hal membuat teman, berpacaran ataupun dalam hubungan suami-istri. Dan kesulitan itu seringkali terjadi karena karakter diri kita yang terlalu kuat dan tak mau melakukan toleransi dengan karakter lainnya.
Sirsa yang tukang ngobrol (bawel?) tak bisa menjadi fleksibel terhadap Durent. Karakternya sebagai seorang yang tukang ngobrol tak bisa dikurangi dan dia tak bisa mentoleransi kependiamannya Durent. Durent pun tak menjadi fleksibel saat berhadapan dengan Sirsa yang bawel, Durent tetap asik dengan dirinya sendiri, tak bisa mentoleransi Sirsa dengan berusaha menjadi seseorang yang doyan bicara saat berhadapan dengan Sirsa.
Amanda menggambarkan fleksibilitas dalam berhubungan sebagai air. Sebagai air, kita bisa mengalir dari satu titik ke titik lainnya, selama mengalir kita membuat banyak teman. Selama mengalir pula kita mentoleransi perbedaan diri kita dengan orang lain. Misalnya Sirsa adalah air berwarna biru dan Durent adalah air berwarna pink. Saat mereka mengalir bersama, Sirsa dan Durent saling menyatu menjadi air berwarna ungu. Kadang proses penyatuan ini memakan banyak waktu, dan kadang tak bisa bersatu. Bila demikian halnya, berarti memang tak jodoh?
Dari sifat air itu sendiri, kadang kita perlu menjadi es batu (air beku) untuk melindungi diri sendiri, terutama bila berhadapan dengan orang-orang yang kurang baik. Kadang kita perlu menjadi awan yang ‘bisa dilihat tapi sulit untuk ditangkap’ (catch me if you can?). Awan dengan jumlah kadar air yang tinggi juga bisa membuat guntur dan hujan lebat, alias kita boleh kog marah dan berantem dengan teman/kekasih kita. Air juga dapat menjadi kabut yang menghambat penglihatan orang lain, alias, kita –disadari atau tidak- menjadi penghambat bagi orang lain. Air dalam jumlah tertentu juga dapat mematikan api dalam besaran tertentu, alias, kita bisa menjadi pendamai dan meredakan amarah orang lain.
Selamat mencoba menjadi fleksibel !
/rombengus dan amanda (?) 140904 (tulisan pertama yang ditulis di tempat umum)
living life and love to the fullest...
Tuesday, September 21, 2004
Sirsa dan Durent
Posted by rombengus at 11:49 PM
