living life and love to the fullest...

Tuesday, September 21, 2004

Dicari seorang gadis kampung untuk si Ucok

Ini kisah cinta antara si Ucok dan Zvetonina (Zvety). Keduanya adalah teman-teman saya. Saya sebenarnya bukanlah seorang yang suka njombaling orang, tapi dari dulu si Ucok ini sudah ‘merengek’ minta dikenalin dengan gadis-gadis bule teman saya, kata si Ucok « Sesama orang Batak harus saling membantu » Salah bang ! Sesama manusia harus saling membantu, jangan pandang SARA !

Ucok ini pria Batak biasa. Dia seorang manajer proyek di sebuah proyek konstruksi di Jerman sana. Nasib si Ucok memang sangat baik, langsung mendapat pekerjaan setamat kuliah (dulu dia kuliah di Jerman juga). Dan karirnya juga meningkat cukup pesat.

Sementara Zvety adalah seorang gadis Bulgaria yang jelita. Kata orang-orang kan makin ke timur benua Eropa, makin cantik para perempuannya. Zvety ini kelahiran Sofia, ibukota Bulgaria yang atmosfer kotanya sangat unik, beda dengan kota-kota di Eropa bagian barat. Dulunya Zvety juga kuliah di Jerman dan sekarang bekerja sebagai kepala redaksi sebuah majalah wanita di Jerman.
Ternyata Ucok dan Zvety merasa saling cocok sejak jumpa pertama. Lalu hubungan mereka pun berlanjut ke jenjang pacaran... Setahun kemudian mereka berencana untuk menikah dan mereka mulai disibukkan dengan aneka persiapan untuk pernikahan.

Namun, semakin dekat ke hari H, semakin tampak jelas prinsip-prinsip dasar si Ucok. Ucok mulai menuntut ini-itu dari calon istrinya. Ucok menuntut Zvety untuk menjadi istri yang harus pintar memasak, mengurus anak, mengurus rumah tangga, dan mengurus suami. Zvety tetap diperbolehkan untuk bekerja, tetapi urusan rumah harus diutamakan, dan harus dilakukannya seorang diri... Saat Zvety bertanya kepada Ucok akan perannya kelak sebagai suami dan ayah, Ucok menjawab singkat « Tugas saya bekerja, menghidupi rumah tangga ». Lha, Zvety kan bekerja juga, kenapa harus Zvety ‘seorang diri’ yang kelak mengurus anak, keluarga dan suami?

Zvety bingung sekali dengan keadaan ini, lalu mengadu ke saya. Saya jelaskan saja padanya bahwa pria bertipe seperti Ucok memang masih dapat dijumpai dengan mudahnya pada pria Indonesia, alias, mayoritas pria Indonesia masih seperti ini (mayoritas, berarti bukan semuanya). Apalagi pria Batak yang umumnya dari kecil diperlakukan sebagai ‘raja’ karena dianggap membawa marga (marga kan sangat penting bagi orang Batak).

Tetapi saya bingung juga terhadap si Ucok, dia kan telah cukup lama tinggal di luar negeri dan pendidikannya pun tinggi, tetapi kog pemikirannya terhadap peran istri di rumah tangga masih seperti itu?

Pada kenyataannya, Zvety dan juga para perempuan yang berpendidikan di Indonesia saat ini memegang teguh kesetaraan dalam berhubungan, baik saat berpacaran maupun menikah.

Kesetaraan dalam rumah tangga konteksnya adalah melakukan urusan rumah tangga secara bersama-sama. Contohnya dalam hal mengurus anak. Mengurus anak bukanlah tugas si istri semata. ‘Membuat’ anak saja dilakukan bersama, kog setelah anaknya lahir segala urusan anak diserahkan pada istri? Apa salahnya bila yang mandiin anak pagi hari si istri dan yang mandiin anak pada malam hari si suami? Kejantanan laki² tak akan menurun kog dengan mandiin anak atau memberi makan bayi. Imej ‘jantan’ bagi seorang pria konon sangat penting, tapi, apa imej itu lebih penting daripada rasa cinta kepada istri dan anak?

Lalu dalam hal mengurus rumah, bukankah lebih adil dan enak bila dikerjakan bersama? Seperti kasus si Ucok dan Zvety di atas, Zvety kan sudah turun tangan dalam urusan cari duit, mustinya si Ucok juga turun tangan dalam mengurus rumah dong... Pembagian kerja bisa dilakukan dengan: misalnya yang bertugas membersihkan bagian kamar tidur, dapur, dan ruang tamu adalah si istri; sementara yang membersihkan kamar mandi, halaman dan garasi adalah si suami. Lalu untuk urusan masak, apa salahnya masak bergantian? Memasak tak membuat pria menjadi banci, buktinya kebanyakan koki terkenal malah pria...

Soal ngurus suami, hal ini bikin saya bingung sendiri... Bukankah suami itu sudah besar dan dewasa, lalu, kenapa perlu diurus? Katanya pria lebih kuat, gagah, perkasa dan jantan daripada perempuan, lalu kenapa si gagah masih perlu diurus? Bukannya hanya si lemah, si manja dan orang yang tak mampu mengurus dirinya sendiri yang perlu diurus? Apakah si Ucok tak cukup kuat dan gagah untuk mengurus dirinya sendiri sehingga Zvety yang lebih pendek dan kurus daripada Ucok perlu turun tangan untuk mengurus Ucok?

Kesetaraan yang dituntut Zvety dan para perempuan modern dan berpendidikan di Indonesia ini tak ada kaitannya dengan peran suami sebagai kepala rumah tangga. Kepala rumah tangga itu bukan ‘raja’ yang harus dilayani ini-itu. Pemimpin perusahaan saja terlibat penuh pada urusan perusahaan, dan pimpinan proyek haruslah turun ke proyek. Jadi bila proyek suami-istri saat ini adalah membesarkan anak, harusnya suami yang katanya pemimpin rumah tangga turun tangan membesarkan anak. Dalam proyek membersihkan rumah pun demikian, proyek bersama dikerjakan bersama...

Kembali ke kisah si Ucok dan Zvety, saya hanya bisa menyarankan supaya Zvety bersabar dan mencoba bicara dengan si Ucok, siapa tau Ucok mau berubah. Mungkin Ucok akan berubah pelan-pelan selama mereka nikah, yang penting adalah membuat Ucok sadar dan mau berubah (untuk berubah kan perlu niat yang kuat).

Zvety mendengar nasehat saya dan mencoba membuka pikiran Ucok. Namum setelah berusaha dengan aneka cara, Ucok tak jua sadar dan mau berubah. Akhirnya Ucok dan Zvety harus berpisah karena tak ada kesamaan visi dalam mengoperasikan rumah tangga...

Saya tak bisa berbuat apa-apa terhadap kejadian berpisahnya mereka. Saya hanya berharap semoga itu memang yang terbaik untuk mereka...

Beberapa bulan setelah mereka berpisah, saya bertemu dengan Ucok. Dan padanya saya hanya bisa bilang:
« Status, karir, pendidikan, dan latar belakang kamu bagus sehingga kamu pun mencari perempuan dalam tingkatan yang sejajar dengan kamu. Tetapi perempuan dari tingkatan tersebut bukan lagi tipe gadis jaman dulu yang bersedia dan punya waktu untuk berjuang ‘seorang diri’ untuk membesarkan anak, mengurus rumah dan mengurus suami. Bukan hanya pola pikirnya Zvety saja yang demikian, tetapi para perempuan Indonesia dengan tingkatan yang kamu inginkan juga telah menjadi perempuan hasil perjuangan Kartini yang menuntut kesetaraan dalam rumah tangga... »

Saya melanjutkan:
« Ucok, kamu hanya punya 2 pilihan sekarang: (1) Berubah menjadi pria yang mau berbagi tugas rumah tangga dengan istrinya, atau (2) Cari perempuan yang bersedia memperlakukan kamu sebagai raja. Untuk pilihan ke-2 ini, kamu musti ‘turunkan standar’ perempuan idamanmu. Paling memungkinkan sih dengan mencari gadis di kampung. Tapi, denger-denger gadis-gadis Batak di Samosir udah pada modern juga, tapi siapa tau masih ada yang sisa... »

Si Ucok hanya diam saja dengar ocehan saya. Mudah-mudahan apa yang telah terjadi -kegagalan pernikahannya dengan Zvety- membuat Ucok tersadar...

Tapi ngomong-ngomong, kapan yah pria-pria bertipe seperti Ucok ini berubah? Dan masih adakah gadis di kampung yang bersedia melayaninya sebagai raja?

Salam emansipasi wanita !

/rombengus, calon tokoh feminis Indonesia? 230804

Catatan: karena Zvety telah menjadi jomblo kembali, ada yang tertarik? Ini anaknya beneran ada, cewe Bulgaria dan tinggal di Berlin. Lho kog gue jadi biro jodoh gini yah?

d