living life and love to the fullest...

Tuesday, September 21, 2004

Maap yah, I don’t speak Indonesian !

Sejak beberapa waktu yang lalu hingga kini, ada fenomena dimana sekelompok orang Indonesia cenderung untuk ber’bilingual-di-waktu-bersamaan’ alias mencampurbaurkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia saat berbicara dengan sesama orang Indonesia.

Ada teman yang mengibaratkan para bilingual campur-aduk ini seperti saluran TV yang korslet. Mustinya saluran 1 berbahasa Indonesia dan saluran 2 berbahasa Inggris, tetapi kedua saluran itu tercampur secara sengaja maupun tak disengaja. Bila tak disengaja, patut kita maklumi. Menyelipkan satu-dua kosa kata bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia kan lumrah. Tetapi bila disengaja, perlu dicari tau sebabnya. Bila orang tersebut ingin menerangkan suatu hal dan hal tersebut lebih pas/klop bila diterangkan dalam bahasa Inggris, secara logika hal ini bisa diterima. Tetapi adapula orang yang beranggapan dirinya akan tampak ’lebih berpendidikan’ dan ’lebih hebat’ bila dia memasukkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.

Apakah benar ber-bilingual korslet itu dapat menunjukkan kesan lebih berpendidikan dan lebih hebat?

Ada juga orang Indonesia yang enggan berbahasa Indonesia saat bertemu dengan orang Indonesia lainnya. Orang tersebut memilih berbicara dalam bahasa Inggris, meskipun bahasa Indonesia adalah bahasa ibunya dan dia masih fasih berbahasa Indonesia. Ini terjadi baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Yang menjadi pertanyaan untuk kasus ini adalah: apakah orang tersebut enggan berbahasa Indonesia karena ‘malu’ dengan bahasa Indonesia-nya? Atau karena bahasa Indonesia dianggap tak penting di dunia jadi tak usah lagi dipergunakan? Ataukah dia mengalami kesulitan dalam mengganti penggunaan bahasa (kesulitan dalam mengganti saluran bahasa)?


Mari kita tinjau fenomena orang Indonesia ini dengan keadaan di negeri seberang.

Belgia, salah satu negara ‘imut’ di Eropa barat, mengakui secara resmi 3 komunitas masyarakat dalam negerinya: komunitas masyarakat berbahasa Belanda yang terletak di bagian utara Belgia (Flemish), komunitas masyarakat berbahasa Perancis di bagian selatan Belgia (Waloonie), dan komunitas masyarakat berbahasa Jerman di bagian timur (namanya apa yah?). Namun karena jumlah masyarakat berbahasa Jerman itu minim, hanya Flemish dan Waloonie saja yang sering kedengaran gaungnya.

Keadaan tersebut membuat orang-orang Belgia berusaha menguasai setidaknya dua bahasa: Belanda dan Perancis (bahasa Inggris mah sudah pasti lah...). Bila kita melihat lowongan-lowongan pekerjaan yang ada di Belgia, mayoritas menuntut calon pelamarnya menguasai kedua bahasa tersebut. Well, memang tak semua orang Belgia fasih berbahasa Belanda dan Perancis, tetapi statistik menunjukkan lebih dari 60% orang Flemish bisa bahasa Perancis.

Pada dasarnya, ber-polylingual (atau multi-lingual yang artinya mampu menggunakan beberapa bahasa) adalah hal biasa di Eropa. Keadaan demografi Eropa yang beraneka bahasa itu menuntut masyarakatnya untuk menguasai bahasa-bahasa lainnya selain bahasa ibunya. Lebih konkret lagi bila kita melihat Uni Eropa (EU) secara keseluruhan. Meskipun 25 negara telah bersatu dalam EU saat ini, tetapi EU tidak memiliki sebuah bahasa pemersatu. Bahasa Inggris bukanlah bahasa pemersatu di EU, sebab bangsa Jerman, Perancis dan Spanyol yang dominan di EU karena jumlah penduduknya yang besar, tak rela bahasanya harus dinomorduakan. Jadi bila ada rapat EU, aneka bahasa dipergunakan secara formal dan melibatkan segenap penterjemah.

Sebagai contoh, mari kita lihat si Nele, seorang gadis Flemish (ini nama pasaran untuk seorang gadis Flemish). Bahasa ibunya adalah bahasa Belanda, lalu dia memperdalam bahasa Perancis dan saat ini Nele bekerja sebagai guru bahasa Perancis di sebuah pusat bahasa. Kemudian Nele berpacaran dengan seorang pria Spanyol dan menggunakan bahasa Spanyol dengan sang kekasih. Bila di rumah dan saat berbicara dengan keluarganya, Nele berbahasa Belanda. Sore hari saat mengajar, Nele berbahasa Perancis. Malam hari bersama sang kekasih, Nele berbahasa Spanyol. Dan saat berbicara dengan saya, Nele berbahasa Inggris.

Nele merupakan saluran TV yang sempurna, jarang sekali korslet. Saat berbicara dengan saya, bahasa Inggrisnya fasih sekali. Lalu tiba-tiba dia mendapat telepon dari ibunya, dan dia pun bisa ’pindah saluran’ berbahasa Belanda dengan baik. Dan saat menerima telepon dari kekasihnya, Nele kembali ’pindah saluran’ ke bahasa Spanyol. Saya pernah bertanya apakah dia tidak ribet dengan aneka bahasa tersebut. Nele mengaku sama sekali tidak, hanya ketika ’capai’ saja ada kosa kata dari bahasa-bahasa itu yang saling tertukar.


Kembali ke fenomena orang-orang Indonesia yang berbilingual-korslet ataupun yang tak mau lagi berbicara bahasa Indonesia karena ribet kalau musti ganti-ganti bahasa; hal ini bukannya menunjukan bahwa mereka lebih berpendidikan ataupun lebih hebat dari lainnya, tetapi malah menunjukkan ‘kelemahan’ diri mereka sendiri. ’Lemah’ karena otaknya tak mampu untuk fokus dengan suatu bahasa pada satu waktu dan berpindah ke bahasa lain pada waktu lainnya. Padahal mereka ini baru menguasai dua bahasa saja -Inggris dan Indonesia- belum polylingual.

Sementara untuk mereka yang menganggap bahasa Indonesia sepele dan tak mau lagi mengucapkannya, sekarang ini jamannya ‘bisa aneka bahasa’ alias polylingual. Semakin banyak bahasa yang kita kuasai akan semakin baik. Menguasai aneka bahasa –termasuk bahasa Indonesia- merupakan nilai jual yang tinggi dalam mencari pekerjaan dan membuka kesempatan bagi kita untuk berintegrasi dengan orang lain, termasuk kesempatan untuk mempunyai lebih banyak teman. Jadi alangkah sayangnya bila kita tak mau lagi berbahasa Indonesia.

Yuk, berbahasa Indonesia yang baik dan benar!

/rombengus 200804

d