living life and love to the fullest...

Tuesday, September 21, 2004

Ada ghetto di Jakarta ?

Ini kisah si Wati, kakaknya Budi yang seperti di buku pelajaran membaca saat TK « Ini Budi, ini ibu Budi, dst… ». Wati ini orang Betawi tulen. Dia berasal dari golongan menengah ke bawah dan tinggal di kampung Betawi di Jakarta. Wati hanyalah tamat SMP. Sebenarnya ia ingin melanjutkan ke SMU, tetapi kondisi keuangan keluarga tak memungkinkan untuk itu... Saat ini, demi membantu perekonomian keluarga, Wati bekerja sebagai penjual tahu goreng di sudut sebuah jalan di Kebayoran Lama.

TV adalah sahabat sejati si Wati dan dari TV dia tau aneka hal yang terjadi di dunia, mulai dari olympiade di Athena sampai konser Britney Spears di Tehran (memangnya Britney pernah konser di sana? CD-nya Britney saja gak dijual bebas di Iran). Lewat media TV pula Wati tau akan kehidupan glamor dari kalangan atas Jakarta. Khusus untuk hal ini, Wati belajar banyak dari sinetron. Meskipun sadar bahwa gaya hidup golongan atas bukanlah bagiannya, tetapi Wati tetap membiarkan mimpi itu hidup di benaknya dan berharap kelak dia bisa merasakan sedikit saja dari impiannya itu.

Suatu hari si Wati ingin sekali merasakan kehidupan elite Jakarta. Dengan nekatnya, dia pergi ke mal Pondok Indah. Saat ingin mencoba sepotong pakaian di Sogo, Wati mendapatkan perlakuan sinis dari seorang mbak SPG (sales person girl) di sana. Sebenernya mbak SPG itu bukanlah orang kaya, bahkan mungkin selevel dengan Wati dalam hal perekonomian domestik. Tetapi seringkali mbak SPG –dan penjaga toko/stand lainnya- berlagak seperti yang punya toko, kurang ramah dan sangat sombong. Padahal yang punya toko bisa jadi orangnya sangat ramah, tidak seperti para mbak SPG itu...

Wati pun sempat diusir saat masuk ke Metro, sebab dia dikira mau meminta-minta disana...

Kemudian Wati melihat warung kopi Starbucks yang ternama dan dengan niat yang besar untuk merasakan kopi kelas atas, Wati memesan segelas es kopi. Saat membayar, Wati kaget bukan main. 15,000 perak hanya untuk segelas kopi! Wati pun menyesal membeli kopi itu, karena dengan uang sebesar itu empoknya bisa menyiapkan makan siang dan malam untuk seluruh anggota keluarga.

Dari Pondok Indah, Wati naik bus ke jalan Jendral Sudirman. Karena ingin sekali masuk dan melihat gedung-gedung perkantoran mewah di Jakarta –yang kerap kali dilihatnya di sinetron- Wati pun nekat masuk ke gedung BEJ (bursa efek jakarta). Di pintu masuk, tas Wati diperiksa, Wati harus mengisi buku tamu, dan diminta KTP-nya untuk ditukar dengan visitor card. Sebenarnya itu adalah pemeriksaan rutin yang sudah merupakan standar gedung perkantoran di Jakarta saat ini, tetapi seringkali para petugas pemeriksaan kurang bersahabat. Sama seperti para mbak SPG tadi, tak jarang para satpam gedung bersikap sombong dan merasa dirinya sebagai yang punya gedung...

Kembali ke kisah si Wati, saat naik lift bersama dengan para pekerja kantoran di gedung BEJ, semua orang dalam lift melotot ke arahnya. Ada pula yang bilang « Mbak, lift bagian service di sana, ini lift khusus tamu ! » rupanya Wati dikira tukang bersih-bersih gedung (cleaning lady).

Saat menjelang sore, Wati pulang ke rumahnya. Di perjalanan dia berpikir bahwa KTP DKI Jakarta yang dimilikinya tidaklah cukup untuk membuatnya mendapatkan perlakuan yang sama dengan warga Jakarta lainnya... Bila warga Jakarta lainnya bisa bekerja di gedung pencakar langit dan mengakses internet untuk keperluan pribadi serta chatting pada jam kantor, Wati hanya bisa berjualan tahu goreng dan nonton sinetron...


:: :: :: :: :: :: :: ::


Salah satu dampak dari pembangunan kota modern adalah mengelompokkan masyarakat ke dalam beberapa tingkatan kelas. Dua kelas yang ekstrim terlihat yaitu warga kelas atas (kaya) dan warga kelas bawah (miskin). Masyarakat kelas atas dapat terus hidup dengan nyaman di kota karena umumnya pembangunan kota berpusat pada mereka. Gedung pusat perbelanjaan (mal, plaza), hotel, apartemen, dan gedung perkantoran dibangun untuk mereka. Yang mampu berbelanja di pertokoan mahal dan menginap di hotel mewah kan terbatas pada orang-orang dari golongan menengah ke atas saja...

Pembangunan kota membuat masyarakat miskin tersingkir ke bagian pinggir kota atau terjebak ke dalam inner-city ghetto (pengasingan di tengah kota). Ghetto yang terjadi ini memang tidak se-ekstrim ghetto orang-orang Yahudi yang dibuat oleh bangsa Jerman pada jaman Hitler dulu. Tetapi kisah kaum miskin di tengah kota –seperti di Jakarta- cukup memilukan hati.... Anak-anak jalanan yang masih kecil tapi sudah menjadi tukang minta-minta, rumah-rumah gubuk di sepanjang kali Ciliwung, dan kasus Wati yang ditolak di wilayah ’glamor’ Jakarta, hanyalah beberapa potret dari inner-city ghetto di Jakarta.

Selain itu, banyak pula masyarakat miskin yang tidak berasal dari Jakarta, melainkan pendatang dari daerah lainnya (urbanisasi). Kota modern memang merupakan daya tarik (magnet) bagi orang-orang dari wilayah lainnya. Mereka berdatangan ke kota dengan harapan bisa bekerja dan tinggal di sana, dan mendapatkan kenyamanan kota tersebut. Tetapi ada daya, tak semua harapan bisa menjadi kenyataan... Para pendatang itu bukannya mendapatkan kehidupan yang layak di kota, malah menambah jumlah warga miskin kota dan memperbesar area inner-city ghetto di Jakarta...

Sebagian masyarakat Jakarta kesal dengan para pendatang ini, pikir mereka « Ih, orang-orang kampung ini, bikin sesak kota Jakarta aja ! » Well, keadaan ini sebenarnya tak jauh beda dengan anak-anak Jakarta yang datang untuk kuliah dan kemudian menetap di LA (los angeles), pikir masyarakat LA « Ih, anak-anak Jakarta ini, udah lulus bukannya pulang malah menuh-menuhin kota LA aja ! »

Fenomena warga miskin di tengah kota ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi di seluruh kota besar di dunia, tak terkecuali di Eropa barat. Jangan heran bila anda menemukan para gembel dan tukang minta-minta nongkrong di kota-kota besar seperti di Amsterdam, London, Brussels, Paris, Milano, dan lainnya. Pengemis bukan cuman ada di Jakarta !

Sejak beberapa tahun yang lalu keadaan ini telah disadari oleh para penata kota dan perancang kota (urban planner dan urban designer). Dan saat ini mereka sangat berhati-hati dalam mengembangkan kota terutama dalam kaitannya dengan isu sosial. Para akedemisi dari Université de Liège di Belgia juga menyatakan bahwa isu di bidang tata kota saat ini berkaitan erat dengan masalah-masalah sosial, bukan masalah teknologi...

Kembali ke kasus ‘pengasingan’ di kota Jakarta tercinta, ada seorang anak Indonesia di sebuah milis (saya lupa milis yang mana) yang mengajak kita untuk membantu para warga miskin tersebut. Cara membantunya bukan dengan memberi sedekah secara cuma-cuma, tetapi dengan cara seperti:
Seminggu sekali membeli jajanan yang lewat di depan rumah (jangan makan di McDonald melulu)
Seminggu sekali tidak naik mobil ke kantor tetapi naik kendaraan umum (uang untuk membeli bensin bisa langsung masuk ke kantong supir dan kernet bus)
Beli sayur jangan di supermarket tetapi dari tukang sayur yang lewat depan rumah (uangnya bisa langsung masuk ke tukang sayur)
Beli majalah atau koran jangan di supermarket atau di toko buku besar, tetapi di kios pinggir jalan (uangnya langsung masuk ke tukang koran)
Dst...

Telah banyak pula organisasi sosial yang turun tangan langsung membantu anak-anak jalanan dengan memberikan pendidikan bagi mereka. Perbuatan ini sungguh mulia, karena bagaimanapun juga anak-anak jalanan itu adalah anak Indonesia, masa depan bangsa...

Cara lainnya adalah dengan menghindari warga desa berdatangan ke kota (mencegah urbanisasi). Sebelum mereka datang ke kota, kita bisa bantu anak-anak di desa tersebut, misalnya dengan menjadi orang tua asuh. Dengan menyisihkan sebagian kecil dari penghasilan per-bulan, kita bisa membantu menyekolahkan anak-anak miskin di desa-desa. Menjadi donatur di Wahana Visi Indonesia (World Vision) dan Unicef/Unesco adalah perbuatan indah yang bisa kita lakukan.

Salam dari inner-city ghetto di Gent,
/rombengus 150804

d