Karena banyak yang terpesona dengan Philomena, saya pun tertarik untuk menuliskan kisah mbakyu satu ini.
Minggu lalu Philo bertemu dengan seorang pria Indonesia bernama Jeri di dalam penerbangan menuju Jakarta. Philomena pulang kampung ? Dia sedang berlibur, bertemu keluarga ayahnya di Menado sana.
Mengetahui bahwa Philo adalah gadis Indonesia dan melihat kecantikan Philo, Jeri langsung jatuh suka pada Philo. Dan tanpa membuang waktu, detik itu juga Jeri mulai pendekatan (pdkt) dengan Philo…
Sejak awal pdkt, Jeri ini melulu ‘tak mau kalah’ dari Philo…
Misalnya saat Philo berkata bahwa dia ingin sekali mengikuti kursus melukis, dengan tak mau kalah Jeri berkata bahwa sedari dulu ia ingin belajar melukis tetapi belum sempat. Jeri juga bilang bahwa dia sebenernya sangat berbakat melukis, bla bla bla… Awalnya Philo merasa sikap Jeri ini wajar. Pria kan katanya memang suka ber-bullshit-ria?
Contoh lain, ketika Philo berkata bahwa Philo suka sekali traveling, dengan tak mau kalah Jeri bercerita panjang lebar bahwa dia telah traveling mengelilingi dunia. Dan dengan ingin memberi kesan bahwa dirinya adalah seorang yang ‘berbudi pekerti luhur’, Jeri menceritakan penderitaan anak² di Afrika saat ia berkunjung ke sana. Dengan senyumnya yang khas, Philo mengaku bahwa dia pernah bekerja volunteer di Uganda untuk membantu anak² di sana, alias, Philo bukan sekedar traveling ke Afrika…
Muka Jeri memerah... Tetapi Jeri ‘tetap tak mau kalah’ dengan berkata bahwa dia rajin membantu orang² yang kesusahan. Philo hanya tersenyum saja, dalam hati Philo mulai membaca gelagat si Jeri yang tak mau kalah ini...
Kemudian Philo sengaja ‘mengetes’ Jeri, sebab Jeri ini tampaknya seorang yang text-book minded. Semua pikiran dan pendapat yang diucapkan Jeri hanyalah berdasarkan teori/pendapat orang lain dan bukan pendapat pribadi. Philo mengajak Jeri membahas tentang ‘Bagaimana pengaruh teknologi terhadap kualitas dan kuantitas senyum seseorang?’. Apakah dengan adanya semantic-web orang² akan lebih sering tersenyum? Apakah ponsel anda yang super canggih membuat anda tersenyum dobel dan lebih lebar dibanding dengan orang yang berponsel sederhana?
Jeri tak bisa berkata apa² terhadap topik diskusi yang diberikan Philo. Padahal topik tersebut hanyalah topik diskusi sederhana untuk level Philo. Philo memang terkenal ajaib dalam berdiskusi.
Karena malu tak bisa menjawab pertanyaan Philo, Jeri mengelak –tetapi tetap dengan cara yang tak mau mengalah- dengan memberitahu Philo bahwa dia adalah seorang pengacara tamatan Harvard. Jeri sengaja berhenti sejenak saat berkata « Harvard » dia ingin melihat keterpesonaan di wajah Philo. Tetapi Philo tak terpesona sedikitpun, dia hanya senyum saja…
Philo tak terkesima mendengar Jeri tamatan Harvard, karena di satu sisi Philo telah terbiasa dengan budaya Eropa yang mengganggap Amerika hanyalah sebuah negara seperti negara² kebanyakan, dan bukanlah negara nomor satu di dunia. Dan orang Eropa memegang kuat sejarah bahwa yang membangun Amerika adalah orang² Eropa sendiri. Yang membangun Harvard, MIT, dsb itu kan orang² Inggris (dari Cambridge). Selain itu, bentuk jalan model grid (sistem blok) yang dibangun di segenap Amerika juga merupakan hasil karya para urban designer Eropa.
Di sisi lain, Philo bukanlah seorang yang maniak dengan ‘status diri’. Philo paling kesal dengan orang² yang kelewat bangga dengan almamaternya, karirnya, perusahaan tempatnya bekerja, dsb. Philo tak memandang pengacara tamatan Harvard sebagai seseorang yang lebih hebat daripada pengacara tamatan Trisakti. Bagi Philo, ‘yang diperbuat’ adalah lebih utama daripada gelar yang dimiliki…
Awalnya Philo mengira perjalanannya ke Jakarta akan menyenangkan, tetapi pertemuannya dengan Jeri malah membuatnya bete L. Philo ingin pindah tempat duduk, tapi gak enak dengan Jeri. Bila didiamkan, apa Philo bisa tahan terbang 12 jam dengan keadaan seperti ini ?
Akhirnya Philo buka kartu ke Jeri. Dengan pelan dan santai Philo ceritakan tentang dirinya, pekerjaannya, keluarganya; dan secara tak langsung Philo pun memberi tahu bahwa Philo telah memiliki seorang kekasih bernama Calvin.
Philo sebenernya bukan tipikal wanita yang mau buka kartu menunjukkan dirinya yang sebenarnya, Philo terbiasa untuk bersikap low-profile. Tetapi keadaan tak memungkinkan Philo untuk terus diam dan tersenyum…
[][][][][]
Ada sekelompok pria bertipe seperti Jeri. Mereka ini sejak pdkt fokusnya bukan pada si wanita yang di-pdkt-in, tetapi pada ‘meletakkan posisi’ diri mereka sebagai pria terhadap si wanita. Mereka sibuk dengan prinsip diri bahwa pria haruslah lebih hebat daripada wanita. Dan saking sibuknya dengan meletakkan posisi tersebut, mereka lupa mencari tau tentang si wanita dan lupa akan konteks cinta itu sendiri…
Selain itu, kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh pria tipe Jeri adalah mereka tidak terlebih dahulu mencari tahu tentang si wanita. Jeri langsung main hantam pasang kuda² posisi terhadap Philo tanpa terlebih dulu mencari tahu tentang latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman, pola pikir, pandangan hidup dan karakter Philo. Jeri menganggap bahwa Philo pastilah gadis Indonesia ‘biasa’ yang cantik. Bila tinggal di Jakarta pastilah Philo menjadi seorang model yang taunya belanja barang² mewah di Sogo, dan dugem di cafĂ©/diskotek setiap malam.
Pria bertipe Jeri ini bertolak-belakang dengan pria bertipe Calvin. Lepas dari hal nationality dan SARA, sejak pendekatan Calvin sangat fokus pada Philo, pada si wanita. Misalnya ketika Philo cerita bahwa dia ingin ikut kursus melukis, Calvin membahas soal tipe² lukisan dan upaya mencari tahu bakat Philo ke tipe lukisan seperti apa.
Calvin sama sekali tak membandingkan Philo dengan dirinya. Calvin tak perduli sebagai pria posisinya harus di atas Philo, menurut Calvin « Cinta mah bukan posisi atas-bawah atuh... Kalo cewe gue hebat, kan gue sendiri yang bangga. Lagian masa sampe nikah mo saing²an terus ma istri? Bukankah saat nikah istri dan suami udah jadi satu? »
Lagipula, tidak sedikit kasus dimana mau usaha segimanapun si pria, si wanita memang lebih unggul dari si pria. Dan bila demikian keadaannya, apakah si pria mundur dan gak jadi pdkt karena merasa kalah dari si wanita? Cinta kan bukan menang-kalah?!
Hal saing²an ini pun berlaku dalam hubungan pertemanan, keluarga, rekan di kantor, dsb. Ada sebagian orang yang gak mau kalah dengan temannya. Segala sesuatunya ‘diadu’ dan dia ‘harus lebih hebat’ dari temannya. Mulai dari adu cangih²an ponsel, adu cakep²an calon gebetan (belon jadi apa² lho, masih calon gebetan), sampe adu jabatan, gaji, mobil, dsb.
Kalo dipikir, mau sampe kapan sih saing²an? Mungkin mempunyai mobil paling mewah dan canggih dari rekan² sekantor bisa jadi kepuasan tersendiri. Tapi, -seperti topik diskusinya Philo di atas- apakah mobil anda tersebut bisa membuat kualitas dan kuantitas senyum anda meningkat dan lebih tinggi dibanding rekan sekantor anda yang mobilnya Kijang butut tahun 80-an?
Secara teori, bersaing itu penting untuk beberapa bidang seperti bisnis dan dapat memacu kita untuk lebih giat lagi berusaha. Tetapi dalam hal berteman, berpacaran, menikah, hubungan keluarga, dsb, gak usahlah saing²an... Saing²an malah bisa bikin pertemanan jadi rusak. Buktinya Philo yang demikian sabar saja gak tahan dengan Jeri. Teman/gebetan kita pun bisa saja lari meninggalkan kita akibat sifat suka saing²an ini...
Di luar hal saing²an ini, ada saatnya dimana kita harus menunjukkan siapa diri kita sebenarnya, tentu saja tidak dengan cara dan maksud yang sombong. Seperti si Philo yang akhirnya buka kartu tentang dirinya karena kepepet...
Salam,
/rombengus yang paling hebat sedunia, dalam dunianya sendiri 210704
Catatan:
Yang suka saing²an ini bukan hanya pria lho, banyak pula wanita yang suka saing²an. Tapi untuk konteks hubungan cinta seperti pacaran dan nikah, wanita kagak suka saing²an dengan pasangannya...
Philomena ada di Indonesia oiy! Hayo bikin jumpa pers sana!
living life and love to the fullest...
Tuesday, September 21, 2004
Jeri yang tak mau kalah
Posted by rombengus at 11:43 PM
