Masih ingat dengan Philomena (Philo), gadis keturunan Indonesia-Italia yang tempo hari dikejar-kejar pria Bangladesh dan Pakistan? Dia memang seorang gadis yang menawan, bukan hanya cantik dan berkepribadian menarik, tetapi juga memiliki misi yang berbeda dari gadis seusianya.
Saat pertama kali bertemu dengannya, Philomena mengaku bahwa dia bekerja di jalan via della Moscova 18 di pusat kota Milan. Saat saya tanya pekerjaannya, dia menjawab bahwa pekerjaannya adalah ‘membantu klien’. Dan saya pun mengira bahwa dia seorang customer service...
Esok harinya saya nyasar di Milan dan tak sengaja saya melewati alamat yang diberikan Philo, dan saya pun tau bahwa dia bekerja di the Boston Consulting, salah satu kantor konsultan top di dunia. Sorenya saya bertemu Philo lagi dan akhirnya dia pun mengaku bahwa dia seorang konsultan senior di Boston Consulting.
Karir Philo memang luar biasa untuk gadis berusia 25 tahun. Tetapi yang lebih menawan lagi, sikap low profile-nya... Biasanya kan eksekutif muda langsung menyebutkan jabatan mereka, serta memberikan kartu nama saat berkenalan. Bagi Philo, kartu nama bisnis hanyalah untuk urusan bisnis. Saat memberikan nomor teleponnya ke saya, dia menuliskannya di secarik sobekan kertas.
Bukan hanya sikapnya saja yang low profile, tetapi gaya hidup Philo pun sederhana. Di summer seperti ini, busana kantornya cukup kemeja dan celana panjang atau rok berbahan katun. Sehari² dia pun naik sepeda ke kantor. Konsultan senior naik sepeda??? Yep! Meskipun dapat jatah sebuah mobil sedan sport mewah asal Italia (pada tau kan mobil sport Italia itu oke banget?) Philo memilih naik sepeda...
Waktu saya tanya apakah dia tidak malu sebagai konsultan senior tetapi naik sepeda, Philo malah tertawa lebar « Malu? Kenapa harus malu? Saya kan pakai baju... » Bagi seorang Philo, status sosialnya tidaklah diukur dari mobil, rumah ataupun barang² mewah yang dimilikinya...
Tadinya Philo bekerja full-time, sekarang dia bekerja part-time dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Dia memilih bekerja part-time karena alasan volume kerja yang berlebihan bila ia bekerja full-time. Namun demikian, dengan bekerja part-time gaji Philo berkurang 1/3nya; tetapi, well, gaji tak selalu yang terutama dalam hidup toch? Lagipula dia lebih suka nongkrong di waroeng kopi langganannya di sore hari...
Warung kopi-nya itu mirip dengan Starbucks tetapi bukan Starbucks. Di warung kopi, biasanya Philo duduk sebentar di meja bar, memesan secangkir cappuccino kegemarannya dan dia pun memandang sekeliling ruangan. Dia mencari ’mangsa’... Setelah menemukan mangsanya, Philo nyamperin sang mangsa tersebut. Orang itu –sang mangsa- diajak ngobrol olehnya...
Untung saja Philo tinggal di Italia yang masyarakatnya terkenal ramah dan mau berintegrasi dengan orang asing (asing di sini pengertiannya adalah pendatang dari negara lain dan juga orang lokal yang belum dikenal). Philo tak mungkin bisa melakukan itu –ngajak ngobrol orang sekenanya- di Belgia, karena orang Belgia bakal langsung antipati dan berpikiran « Ngapain nih orang ngajakin gue ngobrol ? Mau apa dia dari gue ? » Maklum, orang Belgia kan terkenal ogah berintegrasi dengan orang asing. Mereka lebih suka -dan merasa cukup- hidup dengan keluarga dan beberapa teman, alias live-within-a-box lifestyle.
Obrolan Philo dengan orang yang baru dikenalnya bermulai dari percakapan mengenai kejadian terkini seperti balapan sepeda Tour de France, kemudian ke obrolan tentang hidup sehari² seperti susahnya mencari pekerjaan sekarang ini, lalu berlanjut ke obrolan yang lebih mendalam yaitu mengenai permasalahan orang tersebut.
Philo senang sekali mendengar keluh kesah orang. Dia mendengarkan keluh kesah yang disampaikan hingga tuntas, dia tak pernah memotong pembicaraan dengan aneka komentar. Well, Philo memang pendengar yang baik… Melihat wajahnya yang serius saat menyimak ocehan kita saja sudah membuat hati tenang. Jaman sekarang kan susah sekali mencari pendengar yang baik. Pola pikir ’I know everything’ membuat manusia modern merasa dirinya yang paling tahu dan cepat mengeluarkan komentar...
Bila diminta ataupun bila diperlukan, baru Philo buka suara. Tetapi dia tak langsung menyogoki orang tersebut dengan aneka nasehat melainkan memberi dukungan berupa parable (perumpamaan) dari kasus serupa. Philo bukan tipe militer yang setiap perkataan atasan adalah perintah, tetapi dia mengajak kliennya berpikir dan kemudian membiarkan kliennya mengambil keputusan sendiri. Tindakan pendewasaan klien?
Bagi kebanyakan orang, kesuksesan diukur dari tingkatan karir, kekayaan ataupun keluarganya. Bagi Philomena sebagai seorang konsultan di warung kopi, dia merasa sukses bila dia bisa berbuat sesuatu untuk orang lain. Sekedar bantuan kecil yang bisa membuat orang tersebut menjadi lebih bahagia dan lebih baik keadaannya. Dalam hal ini, menjadi pendengar yang baik sudah merupakan perbuatan yang berarti untuk orang lain...
Philo tak bercita-cita muluk ingin mengubah dunia, sebab dunia memang tak bisa diubah secara makro... Dari sananya dunia sudah bulat, dan bagaimana mungkin seorang Philomena bisa mengubahnya menjadi kubus?
Karena itu Philo bertindak secara mikro, dia bergerak person-by-person. Dia berpikir global, bertindak lokal... Dan karena hanya klien dari perusahan² besar yang mampu membayarnya untuk menjadi konsultan resmi/formal di Boston Consulting, Philo pun menjadi konsultan di warung kopi yang sifatnya non-formal dan personal.
Philo memilih warung kopi bukan karena ikut²an trend. Well, di Eropa sendiri warung kopi adalah hal yang biasa, kira² seperti warteg di Indonesia. Dan warung kopi adalah tempat yang tepat untuk mengobrol karena suara musiknya pelan, suasananya santai dan harga kopinya terjangkau. Jadi ‘warung kopi’nya jangan dijadiin patokan, sebab tempat, tools dan media yang digunakan bisa saja berbeda...
Mungkin anda berpendapat bahwa kisah Philomena ini hanyalah kisah fiktif belaka, karena tak mungkin jaman sekarang masih ada orang bak malaikat. Mana ada orang jaman sekarang yang memilih kerja paruh waktu dan gajinya berkurang cuman buat dengerin ocehan orang lain?
Maaf, pendapat anda keliru...
Masih ada kog sejumlah Philomena hidup di masyarakat kita. Masih ada orang-orang ber-idealisme tinggi dan memiliki misi untuk dunia. Mereka melihat, memikirkan dan membantu sesama, bukan sekedar bekerja dan mengejar karir pribadi. Dan belum terlambat untuk anda bergabung dengan mereka itu...
Thus, can I say to you « Welcome to the club? »
/rombengus, konsultan bawah tanah yang ogah ngetop... 100704
Catatan: Ada yang naksir dengan Philomena? Saya punya nomor telponnya J
living life and love to the fullest...
Tuesday, September 21, 2004
Konsultan di waroeng kopi
Posted by rombengus at 11:42 PM
