Kenal dengan Philomena ? Dia gadis Indonesia keturunan Italia yang saat ini bermukim di Milan, Italia. Belakangan ini Philo dikejar banyak pria Bangladesh dan Pakistan yang ada di Milan. Pria² Asia yang mengejarnya itu ada yang statusnya masih mahasiswa sampai dengan businessman. Philo sempat bingung kenapa para pria itu mengejarnya, dan mengapa dari spesifik ras saja? Kenapa tidak semua pria –tanpa ras tertentu- yang mengejarnya?
Karena penasaran, Philo pun bertanya ke pria Bangladesh ke-5 yang menyatakan cinta padanya. Dan pria Bangla itu akhirnya buka kartu, dia bilang bahwa dia jatuh cinta dengan Philo karena Philo adalah gadis Asia yang putih dan cantik… Barulah Philo tau bahwa fisik campuran Indonesia-Italia-nya yang membuat para pria Bangla dan Pakistan itu kelepek²....
Awalnya Philo menikmati proses pengejaran itu. Dia pun membayangkan seandainya dia datang ke negri Bangladesh atau Pakistan. Saat turun dari pesawat, Philo kan disambut dengan karpet merah, dan para pria disana langsung pada jatuh pingsan. Mirip dengan kisah para gadis remaja yang jatuh pingsan saat menyaksikan konser boy-band pujaannya.
Namun akhirnya Philo merasa capek dikejar. Dan dia mengaku ke para pria itu bahwa dia telah mempunyai seorang kekasih, seorang pemuda berkebangsaan Jerman bernama Calvin...
Para pria Bangladesh dan Pakistan itu marah² saat cintanya ditolak. Mereka menuduh bahwa Philo menolak cinta mereka karena mereka itu berkulit coklat gosong, jelek, dekil dan pendek; sementara Calvin –pria Jerman itu- adalah tampan, tinggi dan gagah… Philo menjadi bingung, bukankah yang mencari pasangan berdasarkan fisik adalah para pria Bangla dan Pakistan itu, kenapa sekarang Philo yang dituduh demikian?
**************
Dalam hal mencari pasangan, masyarakat seringkali mengidentikkan wanita sebagai cewe matre (materialistis) dimana wanita maunya mendapatkan pasangan yang kaya untuk bisa hidup nyaman.
Di sisi lain, pria itu identik dengan lookism, mencari wanita yang cantik untuk menjadi pasangan hidupnya… Pria lookism ini tidaklah sepopuler cewe matre, sebab belum ada wanita yang teriak² « Cowo lookism, cowo lookism, gak ada otaknyé ! » seperti di lagu cewe matre « Cewe matre, cewe matre, gak ada otaknyé ! Ke laut ajé ! »
Kebanyakan pria sedari kecil otaknya sudah diprogres demikian: Pria itu harus sukses dalam karir, kaya, dan kemudian mencari wanita cantik untuk diperistri. Bukankah ini pola pikir standard bagi para pria ? Bila demikian, bukankah pria sendiri yang memulai adanya lookism?
Dari segi seksualitas, konon pria mendapatkan gairah dari ‘penglihatan’nya. Pria melihat wanita cantik, kemudian membayangkan dirinya bersama wanita tsb, dan… (silahkan isi sendiri titik²nya). Seorang novelis Inggris mendukung kuat teori tsb « We don’t need a phalanx of behavioral scientist to explain why men judge women by their looks. Because they see better than they think… »
Sering saya dengar bahwa pria ingin mencari istri cantik untuk memperbaiki keturunan. Well, mungkin menikahi wanita cantik memang bisa memperbaiki keturunan, tetapi bila anak mereka malah mirip dengan ayahnya, bukankah justru akan memperburuk keturunan bagi si wanita?
Kemudian, ada seorang teman –pria- yang pernah diskusi dengan saya « Gimana yah kalo nanti istri gue jadi tua dan keriput, kan dia bakal gak enak dilihat lagi … » Saya jawab « Elo sendiri juga bakalan tua, peyot², ubanan, gak gagah lagi, pake tongkat, dsb. Istri elo juga bakal gak enak ngeliat elo… kesian juga kan istri elo? »
Kemudian, sama seperti adanya cowo matre selain cewe matre, tidak sedikit pula keberadaan wanita lookism di masyarakat. Seorang teman –wanita- menyatakan ogah menikah dengan pria jelek. Dia mengandaikan bila dia menikah dengan pria jelek, kelak setiap bangun pagi dia akan kaget « Ya ampun, kamu siapa?! Kamu jelek banget!! Kamu siapa?! » pas sadar bahwa pria jelek di sampingnya adalah suaminya sendiri « Eh, mas… ma’ap mas… »
Saya sendiri terus terang memilih kekasih yang cakep, sebab saya suka memandangi kekasih saya sebagai suatu karya ciptaan yang indah, dan bila dia-nya jelek, yang ada gue bakal celingukan kiri-kanan bukannya ngeliatin dia. Hehehe…
Secara teori, lookism adalah paham/cara memandang seseorang dari penampilannya (Discrimination or prejudice against people based on their appearance). Lookism tidak hanya sebatas wajah, tapi termasuk tubuh secara keseluruhan dan juga penampilan (cara berpakaian).
Umumnya para wanita sadar akan hal lookism ini dan mereka cenderung khawatir akan penampilannya. Para wanita panik bila berat tubuhnya naik. Padahal seharusnya para wanita itu tak perlu terlalu memusingkan berat badannya, sebab survey membuktikan bahwa dari 3 juta wanita di dunia hanya 6 orang yang bertubuh seperti super model. Para wanita pun panik saat keriput datang, sehingga mereka berburu kosmetika yang ampuh untuk menghilangkan keriput di wajah.
Selain itu, lookism tak hanya berlaku dalam hal mencari pasangan, tetapi juga dalam hidup sehari². Misalnya dalam hal mencari pekerjaan. Bila ada dua orang mempunyai kualifikasi yang sama, yang dipilih untuk menjadi karyawan umumnya adalah yang cakepan… Dan untuk posisi tertentu seperti PR, marketing, pramugari/a (pekerjaan yang berhubungan langsung dengan customer) umumnya dipilih orang yang fisiknya menarik.
Orang² cakep pun seringkali mendapat perlakuan lebih baik. Seandainya datang Sophia Latjuba yang cantik dan si Bejo yang jelek dan dekil untuk meminta bantuan dari anda, siapakah yang anda tolong lebih dulu ?
Para expert di bidang ini juga telah membuktikan bahwa orang² cakep punya kehidupan yang lebih baik daripada orang² jelek. Hal ini terjadi karena perlakuan istimewa yg diberikan masyrakat –secara langsung maupun tidak langsung- kepada orang² cakep tsb, orang² berfisik baik pada umumnya lebih dicintai dan bisa lebih sukses dibandingkan orang² yang jelek.
Dan satu hal lagi yang menarik, masyarakat seringkali ribut dengan racism, sexism, materialism, dsb; padahal tanpa disadari, justru lookism adalah yang paling dominan… Dan masyarakat tampaknya pasrah saja dengan lookism ini tanpa berusaha untuk mengubah keadaan… mungkin karena this is the men’s world sementara pria masih juga sangat terikat dengan lookism?
Beauty may only be skin deep, but ugly goes right down to the bone...
Salam
/rombengus yang cakep dan kekasihnya pun cakep 060704
Catatan :
- Kesuksesan tidaklah bergantung pada kesempurnaan tubuh. Beethoven itu tuli, John Milton itu buta dan Stephen Hawking hidup di atas kursi roda. Tapi toch mereka bisa menghasilkan karya yang demikian indahnya…
- Banyak juga kog pria tampan menikahi wanita gendut, atau wanita cantik menikahi pria jelek. Sama seperti banyak pula wanita menikah dengan pria sederhana
- Terinspirasi dari novel Nip ‘n’ tuck karya Kathy Lette
living life and love to the fullest...
Tuesday, September 21, 2004
Cari yang cakep ah !
Posted by rombengus at 11:39 PM
