Sekelompok orang benci dengan Rombengus dan mereka membentuk sebuah klub. Mereka adalah orang-orang yang tersinggung dengan tulisannya Rombengus, ada yang merasa dirinya dijadikan objek atau korban tulisan, dan ada pula yang tak bisa menerima/tak setuju dengan tulisan Rombengus. Mereka menentang keras!
Anggota klub anti Rombengus ini jumlahnya kian membengkak, itu karena anggota inti klub tersebut giat ‘mencari’ anggota baru. Aneka kegiatan dan fasilitas digalakkan untuk menjaring orang-orang supaya tertarik untuk menjadi anggota klub. Mereka menggelar acara makan-makan gratis, memberikan tiket nonton film di bioskop gratis, memberi CD berisi lagu-lagu dangdut yang menyuarakan anti Rombengus (mereka tau bahwa Rombengus doyan lagu dangdut dan mereka memakai musik yang sama untuk melawan Rombengus), serta membagikan kaos oblong warna oranye bertuliskan “Hentikan Rombengus !”
Di lain cerita, adapula klub pecinta Rombengus. Mereka ini orang-orang yang suka, setuju dan berusaha mempraktekkan tulisan-tulisannya Rombengus. Mereka tak memberi aneka hadiah untuk para anggotanya dan malah cenderung bersifat ‘kalem’, tidak mengeksploitasi kegiatan mereka.
Bagaimana tanggapan Rombengus sendiri terhadap keberadaan klub-klub tersebut ?
Rombengus merasa seperti orang beken yang punya klub penggemar sekaligus klub pembenci. Tetapi Rombengus tak sedikitpun terlibat di kedua klub tersebut. Rombengus sedang asik mengumpulkan stiker tato dari chips (makanan kecil dari kentang yang dibungkus dalam plastik) yang kemudian ditempel di kaki kanannya. Seminggu sekali ‘tato’ palsu di kaki kanannya pasti berganti.
Bagaimana dengan orang-orang di luar kedua klub tersebut ? Harus memihak kepada siapakah mereka ? Apakah Rombengus benar atau salah ?
Ada banyak ajaran, teori, dan opini di dunia dan tak jarang kita bingung apakah hal tersebut benar atau tidak, harus kita terima atau kita tolak…
Pada prinsipnya, setiap hal yang kita peroleh harus diuji kebenarannya, jangan diterima mentah-mentah. Misalnya Rombengus menganjurkan anda untuk mengkoleksi boneka jerapah, apakah anda langsung melakukannya tanpa pikir panjang ?
Lalu, bagaimanakah cara menguji ajaran tersebut ? Bagaimana kita tahu bahwa suatu hal itu benar atau salah ?
Dalam menguji suatu ajaran, terutama yang berkaitan dengan prinsip-prinsip hidup, alangkah beruntungnya kita yang memiliki dasar agama yang kuat serta latar belakang keluarga yang baik (misalnya dari keluarga baik-baik dan berpendidikan), karena ‘sensor’ orang-orang dengan latar belakang tersebut umumnya lebih baik dan kuat daripada orang-orang yang tak mempraktekkan agamanya serta berasal dari keluarga yang kacau balau.
Faktor keluarga disini tidak menentang prinsip ‘bapaknya pencuri belum tentu anaknya juga pencuri’, tetapi secara statistik keluarga yang bahagia lebih banyak menghasilkan anak-anak yang ‘kuat’ secara mental dan moral daripada anak-anak dari keluarga yang kacau balau.
Lebih jauh lagi, apakah anda masih ingat teori-nya Amanda Filippacchi tentang menjadi orang yang fleksibel ?
Bila diumpamakan sebuah gunung es, dasar kita -bagian gunung yang terletak di bawah permukaan tanah- adalah latar belakang agama dan keluarga, serta sedikit faktor budaya (budaya ini mudah dipengaruhi sehingga seringkali cepat berubah). Sementara bagian gunung yang ada di atas permukaan tanah adalah menjadi fleksibel tadi.
Dasar atau fondasi yang kuat membuat diri kita menjadi kuat, tak tergoyahkan. Misalnya dasar kita mengajarkan bahwa hidup bersama (samen leven) adalah tidak benar, meskipun kita berada di negeri orang yang membenarkan hidup bersama, kita tak melakukannya karena tidak setuju dengan hal itu.
Fleksibilitas tak menjadikan kita untuk mengadopsi semua hal yang tadinya asing dengan kita –seperti kasus hidup bersama tadi- tetapi cukup mengadaptasikan diri kita terhadap hal tersebut. Ingat, adopsi tidak sama dengan adaptasi…
Menjadi fleksibel tidak berarti mengubah diri kita menjadi orang labil yang mudah terbawa arus, tetapi lebih pada konteks beradaptasi –untuk beberapa hal- dan memahami keadaan –untuk hal lainnya.
Jadi, sudah kuatkah fondasi diri kita? Apakah kita mudah terbawa arus yang sedang populer? Bila anak-anak SMA dan para mahasiswa saat ini menganggap seks bebas adalah hal yang wajar, apakah kita harus ikutan? Hal-hal yang populer tidak semuanya harus kita adopsi…
Dan untuk teman yang telah dikaruniai buah hati, alangkah baiknya bila anda dan pasangan mulai membangun dasar yang kuat untuk putra-putri anda… Beri mereka keluarga yang bahagia dan didik mereka menjadi anak yang saleh/taat.
Oh ya, bila tiba-tiba anda mendapat undangan makan-makan gratis, bisa jadi anda telah diundang untuk masuk ke klub anti Rombengus. Selamat bergabung!
/rombengus 160904 (ditulis untuk sahabat saya tercinta, Rio Harli, yang kembali ke tanah air. Selamat melanjutkan perjuangan…)
living life and love to the fullest...
Tuesday, September 21, 2004
Selamat datang di klub anti Rombengus !
Posted by rombengus at 11:50 PM
