living life and love to the fullest...

Thursday, September 23, 2004

Kisah si supir metro rute nomor satu di Paris

Metro adalah kereta listrik bawah tanah, di negara lain metro ini dikenal sebagai subway. Metro merupakan alat transportasi paling sexy di Paris, karena menghubungkan segenap pusat kota Paris dengan 15 rute dan 300 stasiun. Warga Paris (Parisian) bangga dengan metronya, sampai-sampai rute metro tersebut dijadikan postcard dan dijual ke turis.

Metro rute nomor satu jurusan La Défense – Château de Vincennes merupakan metro rute utama di Paris karena menghubungkan banyak stasiun penting seperti Musée du Louvre (Museum Louvre), Hotel de Ville (city hall), Champs-Elysées (tempat belanja dan nongkrong yang aduhai..), Bastille, dan lainnya. Karena merupakan jalur penting dan juga jalur ‘gemuk’, bila ada metro model baru yang diproduksi, biasanya pertama kali dipakai untuk rute nomor satu ini dulu baru ke rute-rute lainnya.

Mengemudikan metro itu seperti mengemudikan kereta listrik Jabotabek. Si supir berada di ruang kemudi di bagian terdepan kereta yang terpisah dari gerbong-gerbong penumpang. Posisi ini membuat si supir metro tak tau apa yang terjadi di gerbong penumpang. Dia tak tahu ada pengantin baru -pasangan dari Spanyol- yang lagi berantem karena suaminya asik membaca novel Da vinci code. Rupanya si istri juga pingin baca novel tersebut… Supir metro tak tahu ada anak Indonesia yang dipukul gara-gara nolongin nenek-nenek yang mau dicopet… Si supir pun tak tahu ada mas-mas London (aksen Londonnya kental sekali) yang menggoda gadis Paris di depannya. Maklum, gadis Paris memang terkenal cakep dan modis…

Saat metro berhenti di stasiun Bastille. Ternyata baru saja ada aksi demonstrasi di alun-alun depan gedung Opera. Dan segerombolan pemuda ex-demonstran yang tampaknya setengah mabuk masuk ke metro sambil berteriak-teriak. Tiba-tiba mereka mencoba merampok Rombengus... Mereka ini guoblok ! Backpacker gembel seperti Rombengus kog mau dirampok ? Untuk sewa kamar di hostel saja kagak mampu, sampai mbak resepsionis di hostelnya bilang « Duitnya kurang ? Kalo gitu kamu tidur di kasur tapi di lantai dengan harga murahan… »

Supir metro gak tau dan gak perduli Rombengus mau dirampok orang !

Keadaan si supir metro ini lebih memprihatinkan lagi sebab metro-metro di Paris itu berjalan di bawah tanah. Hanya beberapa rute metro yang sebagian jalurnya berada di atas permukaan tanah. Dengan demikian, supir metro itu selama bekerja berada di bawah tanah yang gelap (hanya di area stasiun saja yang terang), sumpek dan pemandangannya hanya lorong-lorong pengap serta aneka stasiun. Dapat dibayangkan bila si supir metro bekerja penuh waktu selama 8 jam sehari, berarti selama itu dia berada di bawah tanah !

Supir metro ini keadaannya tidaklah jauh berbeda dari kuda delman di Indonesia. Kuda delman itu kerjanya menarik kereta tanpa tau ataupun perduli siapa yang naik ke atas kereta. Kuda delman pun diberi tutup mata di bagian kiri dan kanan matanya, sehingga dia hanya bisa melihat lurus ke depan…

Hal yang paling penting dari tulisan ini adalah : Apakah kita juga seperti si supir metro atau si kuda delman ?
Mungkin ada teman yang merasa dirinya sebagai kolerik sejati dan bangga akan hal itu. Namun, apa yang harus dibanggakan bila kita bisanya hanya fokus dengan diri dan pekerjaan sendiri tanpa perduli dengan sekitar ?
Ada pula teman yang berpendapat « Yang penting bisa makan ! Yang penting punya uang !! »
Untuk pendapat ini, mari kita lihat bahasan berikut…

Secara tradisional, manusia hidup dari bayi kemudian menjadi besar, sekolah, kuliah, bekerja, berkeluarga, mempunyai anak, membesarkan anak, menyekolahkan anak, dst… Proses tradisional ini sangatlah umum dan bisa dilakukan setiap orang, gak perlu cape-cape belajar di sekolah beken, kuliah di universitas top, kuliah di luar negri, lulus kuliah dengan predikat magna atau summa cum laude untuk ‘sekedar’ bekerja dan berkeluarga… Sekolah saja di sekolah/universitas antah berantah dan sekedar lulus bila ingin ‘sekedar’ berkerja dan berkeluarga…

Banyak dari kita yang berasal dari keluarga yang baik dan berkecukupan, tak sedikit pula yang anak orang kaya/pejabat. Kita juga telah diberi kesempatan untuk menikmati sekolah yang baik. Banyak yang sekolah di SMU favorit, kuliah di UI/ITB atau PTN beken lainnya, bahkan di luar negeri. Dengan bekal ‘lebih’ tersebut (input yang lebih), seharusnya apa yang kita perbuat (output kita) juga ‘lebih’ daripada orang-orang yang tak seberuntung kita…

Bila fokus kita hanyalah ‘uang’ dan ‘mencari uang’, kita tak akan pernah merasa cukup… Cape lagi kejar-kejaran dengan duit… Dan bila prinsip kita « tunggu sampe gue kaya dulu, baru gue bantu orang lain… » bisa-bisa orangnya udah keburu mati sebelum kita bantu…

Berbuat ‘lebih’ dalam memperhatikan sekitar bisa diterjemahkan ke dalam banyak hal. Saran saya, mulailah dari hal-hal yang sederhana. Misalnya menjadi pendengar yang baik bagi orang lain (jangan ngoceh tentang diri sendiri mulu), menjadi penengah dalam pertikaian di rumah, menuntun kakek-kakek nyebrang jalan, berteman dengan semua orang (jangan hanya berteman dengan yang bule saja atau dengan orang² yang ‘sepihak’ saja), rayakan ultah anak anda di panti asuhan (membagi sukacita dengan anak-anak panti asuhan), dsb…

Yuk sejenak kita melihat ke luar (ke permukaan tanah bagi si supir metro), liat apa yang bisa kita perbuat untuk sekitar kita…

Salam damai,/rombengus_230904 (untuk Christine yang ngiter² Eropa sendirian dan sempat mampir ke gubugnya Rombengus serta bersedia diceramahin Rombengus:)


d